Sabtu, 10 Agustus 2013

Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi

Search

Pelatihan Alat Survey ke Pantai Utara Jawa Karangsong, Kab. Indramayu, JaBar

1.1 Latar Belakang
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan merupakan salah satu kegiatan yang diusulkan dalam Program B2.1. Peningkatan kemampuan lulusan untuk mendukung riset dan layanan masyarakat melalui metoda pembelajaran Collaborative Learning. Proses pembelajaran secara collaborative learning diyakini dapat memfasilitasi penginkatan hard competence mahasiswa dengan lebih efektif karena prinsip dari collaborative learning adalah mahasiswa belajar dengan sangat baik apabila mahasiswa tersebut berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dengan pembimbingan yang sistematis dari para pakar (dosen dan expert). Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang terkait dalam peningkatan hard competence ini adalah workshop dengan ahli di bidang Teknik Kelautan.
1.2 Tujuan Kegiatan
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan ke lapangan bertujuan untuk meningkatkan hard competence mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan, yang sejalan dengan sejumlah kegiatan dalam Program B2.1 ini akan menginduksi atmosfir akademik yang baik, leadership, kemampuan komunikasi, kerja sama, profesionalisme mahasiswa yang lebih tinggi dan kemampuan dalam menggunakan alat-alat survey dalam bidang kelautan.
1.3 Lokasi Kegiatan
Adapun lokasi kegiatan untuk Workshop dengan ahli kelautan ini adalah pada ruang 9311 gedung labtek VI Institut Teknologi Bandung di Jalan Ganesha no 10 Bandung.
1.4 Durasi Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Oktober 2008 mulai pukul 11.00 dan berakhir pukul 16.00
1.5 Sumber Pendanaan
Kegiatan ini sepenuhnya dibiayai oleh Program Hibah Kompetensi Berbasis Institusi 2008 dan didukung oleh Program Studi Teknik Kelautan ITB.
1.6 Kinerja Capaian
Setelah kegiatan ini berlangsung diterbitkan sertifikat sebanyak  buah  untuk Peserta Ekskursi dan 3 buah plakat untuk narasumber dalam Workshop Teknik Kelautan.
2.1 Pendahuluan Pelaksanaan
Pada pukul 06.00 pagi,para pesrta ekskursi direncanakan sudah berkumpul di gerbang depan ITB dengan 30 menit dialokasikan untuk absen peserta  dan mempersiapkan segala akomodasi. Dalam persiapan akan diberitahukan kepada peserta garis besar acara oleh Pak Hendra Achiari. Dijelaskan dalam garis besar antara lain lama perjalanan kira-kira 3 jam dan kita akan mengadakan ekskursi di tempat pelelangan ikan yang bertempat di kelurahan Karangsong, kabupaten Indramayu yang kebetulan sedang dilakukan pembangunan pada perlindungan pantainya. Kegiatan yang akan dilakukan disana dapat dilihat pada modul,yaitu ada pengukuran pada theodolit,pengukuran gelombang menggunakan TWR,penggunaan GPS Echosounder serta penggunaan Bottomgrabber.  Setelah itu seluruh peserta dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok kira-kira berjumlah 7-8 orang.
Bis yang berjumlah dua buah datang sekitar pukul 06.30 dan peserta langsung naik dengan pembagian bis telah diatur oleh panitia. Pada saat berangkat para peserta hanya dibimbing oleh dua orang dosen yaitu Pak Hendra A dan Pak Hendriyawan. Pada saat perjalanan di dalam bis dibagikan fasilitas makan pagi yang telah disediakan panitia. Keberangkatan bis diperkirakan pada pukul 07.30. Perjalanan menempuh kira-kira 3 jam dengan istirahat pada pom bensin kabupaten Indramayu.
Kedatangan diperkirakan pada pukul 10.00 dilanjutkan briefing oleh Pak Harman dan 3 orang panitia serta perwakilan dari laboratorium gelombang. Pada briefing dijelaskan akan ada 2 macam kegiatan yaitu kegiatan di darat dan kegiatan di laut. Setiap kegiatan akan dilakukan oleh 3 kelompok secara bergantian. Kegiatan di darat akan dibimbing oleh pak Harman dan kegiatan laut akan dibimbing oleh pak Hendra A dan pak Hendriyawan. Pergantian kegiatan nantinya akan dijadwalkan dengan istirahat,sholat dan makan yang telah disediakan oleh perwakilan warga yaitu di kantor lurah Karangsong.
Kegiatan darat yang dibimbing oleh pak Harman lebih banyak berisi tentang penjelasan pada pembangunan pada pantai tersebut. Pantai tersebut direncanakan akan dibangun beberapa perlindungan antara lain tripod,kubus pelindung pantai, batu-batu kecil yang dibungkus dengan kawat yang sering disebut brongsong untuk semuanya dijadikan satu menjadi satu sistem perlindungan jetty yang menjorok ke laut. Jetty yang dijadikan sebagai penjelasan merupakan jetty yang telah hampir selesai oleh perencanaan perlindungan yang telah disebutkan. Pekerjaan pembangunan perlindungan pantai Karangsong ini kira-kira telah berlangsung hampir 7 bulan. Ditunjukkan juga dalam penjelasan tersebut air laut yang berwarna sedikit hitam karena kilang minyak Balongan yang ada di pantai seberang. Pak Harman mengatakan banyak warga yang mengeluh akibat pencemaran tersebut.
Selanjutnya akan diadakan pengukuran yang bertempat di ujung jetty pertama dari dua jetty yang direncanakan akan dibangun. Pengukuran menggunakan theodolit ini dijelaskan oleh satu orang setelah itu para peserta akan mencobanya sendiri dengan memindahkan sedikit kedudukan theodolit sehingga hasil yang didapat kelompok akan berbeda satu sama lain. Alat yang digunakan berupa alat pengamat dan penanda yang ada cukup jauh di depannya. Alat ini akan dapat mengukur ketinggian tempat tersebut serta jaraknya dari benchmark, yaitu tempat diletakkannya alat pengamat tersebut. Penjelasan dan percobaan yang dilakukan peserta kira-kira selama 3 jam.
Pengukuran laut dibimbing oleh pak Hendriyawan dan pak Hendra A dengan menggunakan kapal warga setempat yang bernama KM.Biawak. Pengukuran alat ini harus ditempuh dengan perjalanan 15 menit dari pantai karena laut dekat pantai telah terlindungi oleh jetty sehingga air lautnya terlalu tenang untuk dilakukan pengukuran. Pengukuran yang dilakukan disini lebih banyak sehingga ada beberapa percobaan yang dilakukan bersama-sama sehingga tiap kelompok harus membagi konsentrasi agar setiap percobaan mendapat perwakilan dalam mencatat pengukuran dan merekam hasilnya. Pengamatan yang dilakukan antara lain GPS Echosounder, TWR dan alat perekam gelombang serta Bottomgrabber. GPS dan TWR dapat langsung dihubungkan dengan komputer. Sedangkan alat perekam gelombang akan mencatat dalam periode tertentu sehingga nantinya dapat dilihat hasilnya. Tetapi karena penggunaan alat perekam gelombang harus minimal 24 jam agar mendapat pengaruh pasang surut,akhirnya pengamatan ini hanya ditunjukkan berupa pemasangan dan pengambilan alatnya dari laut. Bottomgrabber menghasilkan berupa sampel tanah yang dapat dianalisis di laboratorium nantinya.
Kedua percobaan dengan waktu ishomanya berakhir pukul 15.00. Para peserta diberi waktu bebas kira-kira satu jam sebelum bis kembali ke ITB. Bis meninggalkan Karangsong kira-kira pukul 16.00 untuk melakukan perjalanan pulang. Istirahat sholat dilakukan di masjid terdekat dengan pantai Karangsong sebelum ada istirahat makan di salah satu food court dan cindera mata Indramayu setempat. Para peserta dan dosen pembimbing sampai dengan selamat pada pukul 20.30 di depan gerbang ITB sebagai akhir dari perjalanan ekskursi Karangsong, Indramayu.
2.2 Pengukuran Batimetri
Survei ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kontur kedalaman yang berupa angka kedalaman serta posisi kenampakan yang ada di areal lokasi pekerjaan beserta areal sekitarnya. Areal survei memanjang sejajar dengan garis pantai. Areal yang disurvei batimetri adalah berupa areal memanjang garis pantai. Hasilnya kemudian akan dipetakan dengan skala dan interval kontur tertentu.
Peralatan survei yang diperlukan pada pengukuran batimetri adalah :
i.   Echo Sounder GPSMap dan perlengkapannya. Gambar alat ini disajikan pada Gambar 2.1.
ii.  Notebook. Satu unit portable computer diperlukan untuk menyimpan data yang di-download dari alat GPS Map setiap 300 kali pencatatan data.
iii. Perahu. Perahu digunakan untuk membawa surveyor dan alat-alat pengukuran menyusuri jalur-jalur sounding yang telah ditentukan. Dalam operasinya, perahu tersebut harus memiliki beberapa kriteria, antara lain:
- Perahu harus cukup luas dan nyaman untuk para surveyor dalam melakukan  kegiatan pengukuran dan downloading data dari alat ke komputer, dan lebih baik tertutup dan bebas dari getaran mesin.
- Perahu harus stabil dan mudah bermanuver pada kecepatan rendah.
- Kapasitas bahan bakar harus sesuai dengan panjang jalur sounding.
iv.  Papan duga. Papan duga digunakan pada kegiatan pengamatan fluktuasi muka air laut yang dilakukan di pantai selama waktu pengukuran batimetri guna dijadikan bahan koreksi terhadap fluktuasi muka air laut.
v. Peralatan keselamatan. Peralatan keselamatan yang diperlukan selama kegiatan survei dilakukan antara lain life jacket.
A. Jalur Pemeruman (Sounding Trace)
Jalur sounding adalah jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik awal sampai ke titik akhir dari kawasan survei. Panjang jalur sounding dari darat ke arah laut lepas yang harus dikaji harus ditetapkan terlebih dahulu.
B. Pengambilan Data Kedalaman Perairan dan Posisi Horisontal
Untuk tiap jalur sounding dilakukan pengambilan data kedalaman perairan dengan interval tertentu mengunakan GPSMap 188 Sounder Garmin, alat ini mempunyai kemampuan untuk mengukur kedalaman perairan dengan menggunakan gelombang suara yang dipantulkan ke dasar perairan serta mencatatnya ke dalam notebook.
Selain mencatat kedalaman dari titik-titik yang diambil, GPSMap juga mencatat koordinat X dan Y dari titik-titik tersebut. Alat ini mempunyai fasilitas GPS (Global Positioning System) yang akan memberikan posisi alat pada kerangka horisontal dengan bantuan satelit, dimana proyeksi yang digunakan adalah menggunakan Universal Transverse Mercator (UTM) dengan datum WGS 84. Dengan fasilitas ini, kontrol posisi dalam kerangka horisontal dari suatu titik tetap di darat tidak lagi diperlukan.
C. Koreksi Terhadap Kedalaman
Data yang tercatat pada alat GPSMap adalah jarak antara transducer alat ke dasar perairan. Transducer tersebut diletakkan di bagian belakang kapal, di bawah permukaan air yang terpengaruh oleh pasang surut. Oleh sebab itu diperlukan suatu koreksi kedalaman terhadap jarak transducer ke permukaan air dan koreksi kedalaman terhadap pasang surut. Gambar 2.3 menampilkan sketsa definisi besaran-besaran panjang yang terlibat dalam proses koreksi tersebut.
D.    Pengikatan Terhadap Elevasi Referensi
Hasil dari koreksi pertama (koreksi terhadap jarak transducer ke muka air dan terhadap pasang surut) menghasilkan elevasi dasar perairan terhadap nol papan duga. Elevasi ini kemudian diikatkan kepada elevasi LLWL. Pengikatan terhadap LLWL dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut ini:
dimana:
EDLWS = elevasi dasar perairan relatif terhadap LLWL
ED    = elevasi dasar perairan relatif terhadap nol papan duga
ELWS  = elevasi LWS relatif terhadap nol papan duga
2.3 Pemakaian Alat Ukur Theodolit
Pengukuran situasi rinci dilakukan dengan cara tachymetri dengan menggunakan alat ukur Theodolite kompas (T0). Dengan cara ini diperoleh data-data sebagai berikut:
  • Azimuth Magnetis
  • Pembacaan benang diafragma (atas, tengah, bawah)
  • Sudut zenith atau sudut miring
  • Tinggi alat ukur
Spesifikasi pengukuran situasi adalah sebagai berikut:
  • Metoda yang digunakan adalah tachymetri dengan membuat jalur/ray, dimana setiap ray terikat pada titik-titik poligon sehingga membentuk jalur poligon dan waterpass terikat sempurna.
  • Pembacaan rinci dilakukan menyebar ke seluruh areal yang dipetakan dengan kerapatan disesuaikan dengan skala peta yang akan dibuat. Gundukan tanah, batu-batu besar yang mencolok serta garis pantai akan diukur dengan baik. Juga bangunan-bangunan yang penting dan berkaitan dengan pekerjaan design akan diambil posisinya.
  • Setiap ujung bangunan diambil posisinya dan untuk pengecekan peta, jarak antara ujung-ujung bangunan yang bersebelahan juga akan diukur.
2.4 Pemakaian Alat Ukur Waterpas
Penentuan posisi vertikal titik-titik kerangka dasar dilakukan dengan pengukuran beda tinggi antara dua titik terhadap bidang referensi (LLWL) seperti yang digambarkan pada Gambar 2.5.
Pengukuran waterpas mengikuti ketentuan sebagai berikut:
  1. Jalur pengukuran dibagi menjadi beberapa seksi.
  2. Tiap seksi dibagi menjadi slag yang genap.
  3. Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang dan rambu belakang menjadi rambu muka.
  4. Pengukuran dilakukan double stand pergi pulang pembacaan rambu lengkap (Bt, Ba, Bb).
  5. Selisih pembacaan stand 1 dengan stand 2 < 2 mm.
  6. Jarak rambu ke alat maksimum 75 m.
  7. Setiap awal dan akhir pengukuran dilakukan pengecekan garis bidik.
  8. Toleransi salah penutup beda tinggi (T).
T =
D = Jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam satu kilo meter.
2.5 Pemakaian Alat Ukur Arus
Tujuan pengukuran arus adalah untuk mendapatkan besaran kecepatan dan arah arus yang akan berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal. Pengukuran arus dilaksanakan pada kondisi neap dan spring. Data arus ini akan digunakan sebagai data kalibrasi model dan data untuk penghitungan debit sungai. Alat yang digunakan dapat berupa currentmeter jenis doppler misalnya Aanderaa RCM-9, jenis baling-baling ataupun cara manual. Ketelitian alat yang disyaratkan untuk pengukuran kecepatan arus sebesar 20% dan 100 untuk arah arus. Metoda pelaksanaan pengukuran ini dijelaskan sebagai berikut:
  1. Pengukuran arus dilakukan pada beberapa lokasi dimana arus mempunyai pengaruh penting. Penempatan titik pengamatan ini disesuaikan dengan kondisi oseanografi lokal dan ditentukan hasil studi pengamatan / survei pendahuluan (reconnaissance survey).
    Yang dilakukan adalah: pengukuran distribusi kecepatan, dalam hal ini pengukuran dilakukan di beberapa penampang dan di 3 kedalaman dalam satu penampang.
    Berdasarkan teori yang ada, kecepatan arus rata-rata pada suatu penampang yang besar adalah :
    V = 0.25 ( V0.2d + 2xV0.6d + V0.8d)
    dimana :
    = arus pada kedalaman 0.2d
    D= kedalaman lokasi pengamatan arus.
  2. Pengamatan kecepatan arus dilakukan di kedalaman 0.2d, 0.6d, 0.8d seperti pada Gambar 2.7 Pengukuran dilakukan secara “spot”, dari satu titik ke titik lain.
  3. Untuk keperluan kalibrasi atas model numerik yang akan dibahas pada bagian selanjutnya, pengukuran arus minimal dilaksanakan pada saat tunggang pasang-surut besar atau pada masa purnama (neap).
  4. Di samping besar arus, arah arus juga diamati.
2.6 Pengambilan Contoh Sedimen Dasar
Pengambilan contoh sedimen layang dilakukan pada lokasi yang sudah ditentukan. Metoda pengambilan contoh sedimen dasar diilustrasikan pada Gambar 2.9. Kemudian hasil sampel diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan sedimennya. Pengambilan sampel sedimen dasar menggunakan satu unit grabber seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.10. Grabber dengan kondisi “mulut” terbuka diturunkan dengan menjulur tali hingga membentur tanah dasar laut. Saat tali ditarik kembali, secara otomatis mulut grabber akan menggaruk material di bawahnya hingga tertutup. Dengan demikian grabber yang telah memuat material dasar ditarik ke atas. Sampel material dasar tersebut dimasukkan ke dalam wadah plastik yang diberi tanda untuk dites di laboratorium untuk mengetahui gradasi butirannya.
Data kandungan sedimen dan gradasi butiran merupakan parameter yang diperlukan untuk pemodelan sedimentasi, sehingga dapat diketahui pola sedimentasi di lokasi kajian.
2.7 Pemakaian Alat Ukur Gelombang
Survei pengukuran gelombang menggunakan Pressure Wave Gauge yang diletakkan pada dasar laut. Peralatan yang digunakan adalah TWR2050. Gambar 2.12 menunjukkan sketsa pengukuran gelombang. Prinsip dari pengukuran adalah tekanan air dinamik dan statik pada lokasi wave gauge. Hasil pengukuran runut waktu tekanan air ini kemudian difilter dan dengan rumus gelombang linear yakni ŋ (free surface) = fungsi (pressure)  dari teori gelombang linear, data tekanan air ini dirubah menjadi data profil permukaan air (free surface). Selanjutnya dengan metoda Zero Up Crossing dapat diperoleh runut waktu tinggi gelombang dan periodanya. Kemudian dengan metoda statistik dapat dicari H1/3 (Hs = Tinggi gelombang signifikan) yang terjadi. Gambar 2.13 menunjukkan diagram dari proses pengambilan data.

Survey Bathimetry

Minggu, September 19, 2010

Konsep Dasar Survei Batimetri menggunakan Echosounder

Suatu malam yang cukup dingin di Kalimantan, saya mengecek email untuk melihat berita terbaru ataupun info yang ditujukan kepada saya. Disana ada dua email dari adik angkatan di geodesi. Pada kop email pertama bertuliskan “ Tanya tentang Batimetri”... dan email keduapun juga sama..”Mas Deni, tanya tentang sounding.”.. Mungkin kedua email yang ingin bertanya tentang batimetri bukan hanya saya terima saat ini, pada email terdahulu , sudah ada beberapa yang menanyakan tentang batimetri baik itu adik angkatan maupun teman dari universitas lain.

Saya masih ingat ketika jaman kuliah dulu, pada mata kuliah survei batimetri 1, kami hanya mendengar cerita tentang sounding saja, sayapun hanya bisa meraba raba dan pada ujian akhir hampir 70% soal justru bertanya seputar teori bukan hitungan.( saya sebenarnya agak iri dengan jurusan yang sama di Univ. yang ada di Bandung, Semarang, Surabaya. Hampir semua mahasiswanya ada praktikum Survei Batimetri langsung di Pelabuhan ). Pada mata kuliah survei bathimetri 2 pun juga kurang lengkap, karena beberapa kali kelas kosong lalu tiba2 ujian akhir tanpa punya catatan di semester itu, akhirnya karena soal2nya disuruh menggambar, saya dengan bodohnya menggambar garis lurus bergelombang yang menyerupai pegunungan. ( sangking bingungnya mau gambar apa lagi ).. eh di papan nilai... anehnya nilai saya B..... hahaha...dari mana coba tuh nilai bisa B??

Karena saya diterima bekerja di bidang Offshore Hidrografi,awalnya saya melongo-melongo,, gag ngerti ini itu.. orang2 pada ngomongin “swift”,, ada juga “ diurnal dan admiralty”.. saya Cuma garuk garuk kepala. Tapi saat ini saya sudah cukup memahami tentang konsep dasar hidrografi, karena itu saya ingin mensharekan ilmu ini agar berguna bagi rekan2 geodesi.. Tanpa berlama lama, saya akan segera membahasnya :

Konsep Survei Batimetri menggunakan Echosounder


“Apa sih survei batimetri itu?” . Survei batimetri adalah survei yang dilakukan untuk mengetahui nilai kedalaman dari dasar laut. Lalu tujuan nya buat apa ??.. Tujuan nya macam2.. ada yang untuk pengerukan pelabuhan, perencanaan bangunan di laut ( pelabuhan, Platform, sumur minyak), dll.

Alat yang dibutuhkan untuk pengukuran dasar laut ini ada dua macam, diantaranya Echosounder Single Frekwensi dan Echosounder Double Frekwensi. Bedanya apa sih?.. Bedanya adalah kalau single frekwensi hanya menggunakan frekwensi Tinggi saja (kedalaman hanya sampai lapisan paling atas dari tanah ) , artinya kedalaman tidak bisa menembus lumpur ( Contoh alat :Echosounder Hydrotrac ODOM ). Kalau Echosounder Double frekwensi, terdapat 2 frekwensi yang digunakan sekaligus, yaitu frekwensi tinggi ( untuk pengukuran kedalaman dasar laut teratas ) dan frekwensi rendah ( untuk pengukuran kedalaman dasar laut yang dapat menembus lumpur ), sehingga ada 2 data kedalaman sekaligus yang didapatkan.( Contoh alat : Echosounder MK III).Instalasi Alat yang dipergunakan untuk pengukuran batimetri adalah :
a. GPS Antena : Untuk mendapatkan data posisi koordinat
b. Tranducer : Alat yang memancarkan sinyal akustik ke dasar laut untuk data kedalaman
c. Echosounder : Alat yang menampilkan angka kedalaman
d. Laptop : Untuk pengoperasian yang mengintegrasikan GPS, tranducer, dan echosounder.

Kosep positioning GPS pada Echosounder

Untuk saat ini, pada berbagai kapal survei sudah menggunakan GPS dengan metode pengukuran DGPS dengan kepanjangan Differential Global Positioning System. Mungkin anda bertanya , apa bedanya pengukuran posisi menggunakan DGPS dan GPS RTK.. Jawaban nya adalah Jelas Berbeda.. Mungkin beberapa dari anda sudah mengetahui, bahwa pada metode RTK , BASE station lah yang memberikan nilai koreksi kepada ROVER station. Sedangkan pada DGPS, BASE station yang berada di beberapa negara diantaranya Singapura, Australia, Indonesia. BASE ini memberikan nilai koreksi kepada SATELIT ( bukan ROVER ). Koreksinya bermacam macam , bisa koreksi Jam satelit, koreksi kesalahan orbit satelit, dll.

Metode DGPS ini memiliki ketelitian cukup tinggi sampai level centimeter, namun untuk menggunakan nya. Setiap orang/ perusahaan harus membayar kepada perusahaan yang memberikan jasa pelayanan DGPS diantaranya C-NAV dan VERIPOS. Saya kurang tahu untuk harganya, mungkin bisa langsung dicek di halaman websitenya. Hehe..
Menggunakan metode DGPS ini, dimanapun posisi kapal berada, kita bisa langsung mendapatkan koordinat kapal secara teliti. Koordinat bisa dalam informasi Latitude longitude,bisa juga dalam sistem koordinat lokal tergantung yang diinginkan (diperhatikan Datum, elipsoid, Spheroid )


Kosep pengukuran kedalaman pada Echosounder

Untuk pengukuran kedalaman, sensor yang digunakan adalah Transducer. Tranducer ini dapat ditaruh di samping kapal dan berada dibawah permukaan air. Sensor ini cukup sensitif, karena ada buble sedikit saja, sinyal yang dipancarkan sudah terganggu. Sehingga kita perlu mengatur speed kapal sedemikian rupa agar Tranducer masih dapat membaca nilai kedalaman ( Biasanya kecepatan kapal 3 – 6 Knot saja )
Tranducer memancarkan sinyal2 akustik ke bawah permukaan laut. Sebenarnya prinsipnya hampir sama seperti pengukuran jarak menggunakan total station. Rumusnya : Jarak = ( Kecepatan gelombang x Waktu ) / 2.. Kenapa dibagi 2?? Karena jarak yang ditempuh kan bolak balik, jadi dibagi 2 supaya jarak one way saja yang didapatkan
Jika kita mengoperasikan alat Echosounder. Ada beberapa parameter yang perlu kita inputkan ke dalam echosounder, diantaranya :
a. Draft : Jarak antara permukaan air dengan ujung sensor tranducer paling bawah
b. Velocity : Cepat rambat gelombang
c. Index : Nilai koreksi kedalaman.

Setiap kali sebelum melakukan pengukuran batimetri kedalaman dasar laut, kita harus melakukan kalibrasi Barcheck.. Prinsip kerjanya sederhana saja, pertama kita ukur draft ( jarak permukaan air ke sensor ), kemudian kita inputkan ke dalam echosounder, setelah itu barcheck kita taruh di kedalaman 1 meter dekat dengan sensor tranducer . Logikanya kan seharusnya pada barcheck 1 meter, angka yang dibaca di echosounder juga 1 m...Namun biasanya tidak 1 meter, tetapi 1,2 meter atau lebih... Nah karena itu.. Kita harus merubah parameter Velocity dan Indeks sedemikian rupa sampai kedalaman pada barcheck 1 meter,dan angka yang dibaca echosounder juga 1 meter...

NB: Velocity dipengaruhi oleh tekanan air, temperature, salinitas air, dll. Contoh, pada daerah sungai, biasanya velocity seputaran 1520 – 1530.. Namun tiap daerah, besar velocity berbeda beda. Untuk mendapatkan nilai Velocity secara teliti, diperlukan pengukuran menggunakan CTD, sedangkan untuk keperluan praktis, cukup menggunakan adjust barcheck saja.


Konsep Pasang Surut




Kenapa pasang surut bisa terjadi? Pasang surut dapat terjadi disebabkan oleh Gravitasi matahari, gravitasi bulan, gaya sentrifugal akibat rotasi bumi, dll. Walaupun bulan lebih kecil dari matahari, tetapi justru grafitasi bulan lah yang memberikan pengaruh lebih besar terhadap pasang surut di bumi dikarenakan jarak yang lebih dekat antara bumi ke bulan dibanding bumi ke matahari.

Kalau anda melihat pada gambar diatas, terdapat bermacam macam posisi kedalaman dari permukaan air laut. Contohnya ada MSL ( rata2 permukaan air laut ), CD ( surut terendah ), dll. Informasi posisi permukaan air laut sangatlah penting, terutama kedalaman MSL dipakai sebagai acuan ketinggian di daratan, dan CD untuk acuan kedalaman pada peta batimetri. Lalu “Bagaimana mendapatkan MSL dan CD??” Untuk mendapatkan nya, perlu dilakukan pengamatan pasang surut.. Untuk keperluan praktis cukup pengamatan selama 15 piantan ( 15 hari ) atau 29 piantan ( 30 hari ). Caranya bisa secara manual ( memakai rambu ukur yang ditaruh di pinggir laut kemudian dibaca manual tiap 30 menit ) , bisa juga secara otomatis ( menggunakan Pressure tide gauge, ataupun GPS tide gauge. Sehingga bacaan sudah terecord otomatis dan kita tingal mendownloadnya ). Lalu bacaan tersebut diolah menggunakan metode admiralty ( untuk pengamatan kurang dari 30 hari ), dan metode Least Square ( untuk pengamatan lebih dari 30 hari ). Sehingga didapatkan 9 parameter diantaranya M2, N2, S0 ( nilai MSL ), ZO ( selisih MSL terhadap CD ),dll. Untuk saat ini semuanya sudah bisa dilakukan software, kita tinggal menginputkan bacaan rambunya saja, dan 9 parameter sudah dihitung komputer secara otomatis, informasi MSL serta CD sudah langsung kita dapatkan.

Untuk keperluan ilmiah, pasang surut diamati setiap 18,6 tahun. Setelah 18,6 tahun, maka polanya berulang kembali dari awal. Namun pada survei bathimetri, biasanya cukup pengamatan 1 bulan sampai 1 tahun saja.

NB: Bagaimana jika ingin mendapatkan MSL dengan pengukuran kurang dari 15 piantan ( 15 hari ) ??.. Caranya bisa kita lakukan transfer tinggi dari TTG ( 0 MSL ) milik bakosurtanal ke daerah perairan / pelabuhan terdekat menggunakan sipat datar, kedua menggunakan pengamatan pasang surut min 39 jam kemudian dihitung menggunakan metode Doodson untuk mendapatkan DTS ( Duduk Tengah Sementara ), Terakhir menggunakan Prediksi Pasut yang bisa didapatkan di situs DISHIDROS atau bisa juga di www.easytide.com, sesuai dengan lokasi terdekat dengan daerah survei.
Kalu software yang dipergunakan untuk pengukuran bathimetri ada bermacam macam, diantaranya Hidronav (Under DOS), Hidropro, Map source, dll. Kalau saya biasanya menggunakan hidropro karena cukup mudah dalam mengoperasikan nya, data akhir yang didapatkan dalam format .txt berisi nomor fix, Easting, Northing, kedalaman. Dan bisa langsung kita plotkan di Software Autocad.

Saya rasa cukup sekian dari saya,, aya berharap semoga penjelasan ini paling tidak cukup memberikan gambaran kepada rekan2 geodesi.. Sukses selalu untuk Geodesi Tercinta.

Rabu, 10 Juli 2013

adwal Sholat untuk Batam, GMT +7

Agustus 2013

  sebelum Pilih Kota  sesudah  
TanggalImsyakShubuhTerbitDhuhaDzuhurAshrMaghribIsya
0104:3604:4606:0306:2712:1215:3518:1719:30
0204:3604:4606:0306:2712:1215:3518:1719:30
0304:3604:4606:0306:2712:1215:3518:1719:29
0404:3604:4606:0306:2712:1215:3418:1719:29
0504:3604:4606:0306:2712:1215:3418:1719:29
0604:3704:4706:0306:2712:1215:3418:1719:29
0704:3704:4706:0306:2712:1215:3318:1719:28
0804:3704:4706:0306:2712:1215:3318:1619:28
0904:3704:4706:0306:2712:1115:3318:1619:28
1004:3704:4706:0306:2712:1115:3218:1619:28
1104:3704:4706:0306:2712:1115:3218:1619:27
1204:3704:4706:0206:2612:1115:3118:1619:27
1304:3704:4706:0206:2612:1115:3118:1619:27
1404:3704:4706:0206:2612:1115:3018:1519:26
1504:3704:4706:0206:2612:1115:3018:1519:26
1604:3704:4706:0206:2612:1015:2918:1519:26
1704:3704:4706:0206:2612:1015:2918:1519:25
1804:3604:4606:0106:2512:1015:2818:1419:25
1904:3604:4606:0106:2512:1015:2818:1419:25
2004:3604:4606:0106:2512:0915:2718:1419:24
2104:3604:4606:0106:2512:0915:2718:1419:24
2204:3604:4606:0106:2512:0915:2618:1319:24
2304:3604:4606:0006:2412:0915:2518:1319:23
2404:3604:4606:0006:2412:0915:2518:1319:23
2504:3604:4606:0006:2412:0815:2418:1219:22
2604:3604:4606:0006:2412:0815:2318:1219:22
2704:3504:4506:0006:2412:0815:2318:1219:22
2804:3504:4505:5906:2312:0715:2218:1219:21
2904:3504:4505:5906:2312:0715:2118:1119:21
3004:3504:4505:5906:2312:0715:2018:1119:20
3104:3504:4505:5806:2212:0715:2018:1119:20
 :: Parameter
Untuk Kota Batam 1°8' LU 104°3' BT
Arah :293.08 ° ke Mekah
Jarak :7307.572 km ke Mekah
 :: Pilihan Fiqh
Penentapan Waktu Shubuh: 20.0 deg. Kemiringan Matahari
Penetapan Waktu Ashr: Perbandingan bayangan 1 (Shafi'i dan lainnya)
Penetapan Waktu Isya: 18.0 deg. Kemiringan Matahari
Penetapan Waktu Imsyak: 10.0 min. Jarak Waktu dari Shubuh
Jadwal sudah diberi : 2 menit untuk waktu Ihtiyati (pengaman)
 :: Print/Cetak

Kamis, 20 Juni 2013

BUDIDAYA MELON



MELON

CARA MENANAM MELON MENGGUNAKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA YANG SANGAT APLIKATIF


BUDIDAYA MELON

TANAMAN MELON


Tanaman melon memerlukan curah hujan antara 2000-3000 mm/th dengan ketinggian tempat yang optimal 200-900 mdpl. Intensitas sinar matahari berkisar antara 10-12 jam per hari. Suhu optimal untuk perkecambahan berkisar 28°-30°C, untuk pertumbuhan vegetatif 20-25°C dan untuk pembungaan >25°C. Rasa melon yang manis akan tercapai apabila selisih suhu antara siang dan malam cukup tinggi. Suhu pada siang hari untuk pembesaran 26°C sehingga dapat meningkatkan fotosintesis. Sedangkan suhu malam harinya <20°C untuk menekan proses respirasi cadangan makanan. Air sangat dibutuhkan oleh tanaman ini karena 90% kandungan melon terdiri dari air. Lokasi penanaman melon sebaiknya bukan bekas lahan tanaman melon atau tanaman sefamili. Minimal sudah diberakan selama 2 tahun untuk diperoleh hasil yang optimal.

PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA MELON

Pengukuran pH tanah diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa dilakukan dengan kertas lakmus, PH meter, atau cairan PH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan dengan cara zigzag.

PELAKSANAAN BUDIDAYA MELON

Persiapan Lahan

Persiapan lahan meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, Pembuatan bedengan kasar dengan lebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm dan lebar parit 50-70 cm, pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP (Plastik Hitam Perak) untuk tanah dengan pH di bawah 6,5, pemberian pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP, kemudian dilakukan pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, persiapan selanjutnya pemasangan mulsa PHP, pembuatan lubang tanam dengan  jarak tanam ideal untuk musim kemarau 60 cm x 60 cm sedangkan untuk musim penghujan bisa diperlebar 70 cm x 70 cm dan kemudian dilakukan pemasangan ajir. Pemasangan ajir yang dianjurkan dengan sistem ajir tegak supaya kelembaban tanaman terjaga, masing2 ajir dihubungkan dengan gelagar. Gelagar ini disamping menghubungkan ajir yang satu dengan lainnya juga berfungsi sebagai tempat penggantungan buah. Agar serangkaian ajir tersebut menjadi kuat pada ajir paling pinggir dan setiap 4 ajir dipasang ajir penguat membentuk sudut ±  45°.




Persiapan Pembibitan dan Penanaman

Pada persiapan pembibitan dibutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit yang masih muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai. Sebelum melakukan penyemaian benih, sebaiknya benih direndam dalam larutan fungisida sistemik berbahan aktif simokanil atau metalaksil dengan dosis ½  dari dosis terendah yang dianjurkan pada kemasan selama ± 6 jam, baru kemudian benih disemai pada media. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup dengan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP) dan dijaga dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai pada jam 07.00 - 09.00, dan dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah dan dilakukan setiap pagi. Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid pada umur 8 hss (hari setelah semai) dengan dosis ½ dari dosis terendah. Bibit yang sudah memiliki 4 helai daun sejati siap untuk pindah tanam ke lahan.

Pemeliharaan Tanaman Pada Budidaya Melon

Penyulaman

Penyulaman dilakukan sampai dengan umur tanaman 2 minggu. Tanaman yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Dan akan berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.

Pengikatan dan Pemangkasan Tanaman

Tanaman melon termasuk tanaman merambat dengan pertumbuhan yang cepat, untuk itu sedini mungkin harus sudah segera diikatkan pada ajir, pengikatan dilakukan setiap jarak 40 cm.
Pemangkasan tanaman bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Agar sirkulasi udara di sekitar arel pertanaman lancar maka dianjurkan memelihara satu cabang utama. Pemangkasan cabang lateral dimulai dari ruas ke-1 sampai ke-6. Cabang lateral pada ruas ke-7 sampai ke-10 dipelihara sebagai tempat bakal buah. Bakal buah diseleksi saat ukuran buah minimal sebesar telur, dipilih 2 buah yang sempurna. Setelah dilakukan seleksi buah cabang lateral yang buahnya dipelihara dipangkas dengan menyisakan 3 helai daun diatasnya. Sedangkan cabang lateral yang buahnya tidak dipelihara, yang satu dipangkas pada ruas ke 2 dan yang satunya lagi dipelihara sebagai cadangan daun untuk mengantisipasi kekurangan daun akibat serangan hama penyakit. Pemangkasan cabang lateral dilanjutkan pada ruas ke-12 sampai ke-33. Ujung cabang utama diatas ruas ke 33 kemudian dipangkas.
Buah melon perlu diikat pada gelagar untuk membantu batang tanaman menyangga beban buah. Pengikatan dilakukan pada cabang lateral yang berhubungan dengan tangkai buah membentuk huruf T.



Sanitasi Lahan dan Pengairan

Sanitasi lahan pada budidaya melon meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, pemangkasan daun dan pencabutan tanaman yang terserang hama penyakit.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan

Pupuk akar diberikan dengan cara pengocoran pada umur 15 hst, 25 hst dan 35 hst dengan dosis 3kg NPK 15-15-15 dan 1kg ZK dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml.
Pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi diberikan pada umur 7 hst dan 24 hst, sedangkan kandungan Phospat, kalium dan mikro tinggi diberikan umur 20 hst, 30 hst dan 45 hst.

Defisiensi Unsur Hara

Kalium

Tanaman melon memerlukan unsur hara kalium dalam jumlah yang sangat banyak. Unsur ini berperan dalam penyusunan protein dan karbohidrat. Selain itu pemberian unsur kalium yang cukup juga akan meningkatkan kualitas buah serta meningkatkan ketahanan tanaman baik terhadap serangan hama penyakit maupun kekeringan. Kekurangan kalium ditandai dengan gejala tepi daun menjadi kuning muda, kemudian berubah menjadi kecoklatan, akhirnya robek seolah bergerigi. Untuk mengatasi kekurangan unsur hara ini dapat dikocor KNO3, dan dapat pula dilakukan penyemprotan pupuk daun yang mengandung kalium tinggi, misalnya pupuk MKP (Mono Kalium Pospat).

Magnesium

Tanaman melon juga membutuhkan unsur magnesium dalam jumlah yang relatif banyak. Unsur ini berfungsi unsur membentuk klorofil (zat hijau daun) dan mengaktifkan enzim-enzim dalam proses metabolisme. Kekurangan unsur ini ditandai dengan klorosis diantara tulang daun, warna daun menguning, terdapat bercak merah kecoklatan sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau. Untuk mengatasi kekurangan unsur ini dapat dengan pengapuran dan penyemprotan pupuk daun yang mengandung magnesiun tinggi, misal magnesium sulfat.

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Melon

Hama Tanaman Melon

Gangsir

Gangsir menyerang batang tanaman muda terutama pada tanaman yang baru saja pindah tanam. Serangannya dilakukan pada malam hari, dengan memotong batang tanaman tetapi tidak memakannya. Hama ini bersembunyi di dalam tanah dengan membuat liang pada tanah, keberadaan gangsing dapat dicirikan adanya onggokan tanah pada muka liang. Cara pengendaliannya adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Ulat Tanah

Hama jenis ini menyerang tanaman pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tanaman yang masih muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendaliannya adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Ulat Grayak

Ulat grayak menyerang daun tanaman bersama-sama dalam jumlah yang sangat banyak, ulat ini biasanya menyerang di malam hari. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Ulat Jengkal

Gejala serangan ulat ini ditandai pada tepi daun muda terdapat bekas gigitan serangga yang makin lama makin makin ke tengah hingga tersisa tulang daunnya. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Thrips

Serangan thrips ditandai dengan adanya bercak-bercak keperakan pada daun tanaman yang terserang. Hama ini lebih suka mengisap cairan daun muda sehingga menyebabkan daun yang terserang mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kutu Daun

Kutu daun mengisap cairan tanaman terutama pada daun yang masih muda, kotoran dari kutu ini berasa manis sehingga menggundang semut. Daun yang terserang mengalami klorosis(kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kutu Kebul

Hama ini berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Tungau

Tungau bersembunyi di balik daun dan menghisap cairan daun. Daun yang terserang berwarna kecoklatan dan terpelintir, serta pada permukaan bawah daun terdapat benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida akarisida berbahan aktif  propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kumbang Daun

Kumbang daun dinamakan juga oteng-oteng. Serangannya ditandai dengan adanya bekas gigitan serangga membentuk guratan-guratan konsentris pada daun. Selain merusak daun kumbang ini juga merusak bunga melon. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Lalat Buah

Lalat betina dewasa menyerang buah melon dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur berubah menjadi larva, telur-telur inilah yang akhirnya menggerogoti buah melon sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian lalat buah dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan pada botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil.  Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Tikus

Tikus menyerang buah melon pada malam hari, pada siang hari biasanya hama ini bersembunyi dalam sarang. Cara pengendaliannya dapat dengan memberikan umpan yang telah dicampur rodentisida, campuran ini ditaruh di depan lubang tikus yang masih aktif, ditandai dengan adanya sisa-sisa makanan baru pada lubang atau terlihat bekas dilalui tikus.  Selain itu bisa juga dengan cara, pada lubang sarang aktif diberi kabit, dan disiram dengan air kemudian lubang ditutup dengan tanah agar gas yang ditimbulkan oleh karbit tidak keluar.

Nematoda

Serangan nematoda ditandai adanya bintil-bintil pada akar. Nematoda merupakan cacing tanah yang berukuran sangat kecil, hama ini merupakan cacing parasit yang menyerang bagian akar tanaman. Bekas gigitan cacing inilah yang akhirnya menyebabkan serangan sekunder, seperti layu bakteri, layu fusarium, busuk phytopthora atau cendawan lain penyerang akar. Cara pengendalian nematoda adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Penyakit Tanaman Melon

Rebah Semai

Rebah semai biasa menyerang tanaman melon pada fase pembibitan. Cara pengendaliannya dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dengan dosis ½ dari dosis terendah yang tertera pada kemasan.

Layu Bakteri

Penyakit ini sering menggagalkan tanaman, Serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin dengan dosis sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma pada saat persiapan lahan, pada umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Layu Fusarium

Gejala yang ditimbulkan oleh layu fusarium hampir sama dengan  layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma pada saat persiapan lahan, pada umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Busuk Phytopthora

Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman. Batang yang terserang ditandai dengan bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman layu. Daun melon yang terserang seperti tersiram air panas. Buah yang terserang ditandai dengan bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram,  atau tiram.

Gummy Stem Blight

Penyakit ini bermula dari bagian bawah batang tanaman yang nampak seperti tercelup minyak, selanjutnya mengeluarkan cairan berwarna merah cokelat dan akhirnya tanaman mati. Daun yang terserang ditandai dengan bercak bundar melekuk ke dalam berwarna cokelat kehitaman lama kelamaan daun akan mengering. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, tridemorf, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

Powdery Mildew

Gejala diawali dengan bercak bulat kecil berwarna keputihan pada permukaan bagian bawah daun. Kemudian bercak akan menyatu dan berkembang ke permukaan daun bagian atas sehingga daun seperti diselimuti tepung. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

Downy Midew

Terdapat bercak berwana kuning muda pada permukaan daun yang dibatasi oleh tulang daun, sedangkan pada permukaan bagian bawahnya  terdapat massa spora yang berwarna kehitaman. Pada serangan yang parah terjadi pembusukan tulang daun yang akhirnya menyebabkan tanaman mati. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

Antraknosa

Antraknosa sering juga diistilahkan dengan nama patek. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman yang ditandai dengan adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar dan menyatu akhirnya daun mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah yang terserang akan nampak bercak agak bulat dan berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

Kudis (scab)

Serangan pada buah muda akan tampak bercak berwarna hijau-cokelatan melekuk ke dalam, bagian pinggirnya mengeluarkan cairan yang akan mengering seperti karet. Pada buah tua serangan penyakit ini akan membentuk kudis bergabus yang berwarna cokelat, tetapi proses pematangan buah tidak mengalami hambatan. Namun setelah dipanen, cendawan akan aktif dan buah mudah membusuk. Pada daun yang terserang akan terlihat bercak cokelat kebasah-basahan dan mengeluarkan lendir. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram.

Bercak Daun

Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri, berkembang pesat terutama pada musim hujan. Serangan ditandai dengan adanya bercak putih dan bersudut karena dibatasi tulang daun. Kemudian bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun mengeluarkan cairan, akhirnya daun mengering. Pengendaliannya menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis sesuai pada kemasan.

Virus

Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama pada musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai dengan pertumbuhan tanaman yang mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya adalah thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama pada saat pemangkasan. Beberapa upaya penanganannya virus antara lain : membersihkan gulma (karena gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman yang sudah terserang virus, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Budidaya Melon

Pengendalian hama gangsir, ulat tanah dan nematoda dilakukan secara bersamaan cukup satu kali pemberian insektisida, yaitu 1gram per lubang tanam.

Pengendalian hama ulat grayak, ulat jengkal, thrips, kutu daun, kutu kebul, tungau, kumbang daun dan lalat buah dan penyakit menggunakan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan (jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut).

PANEN

Umur panen buah melon sangat  bervariasi, yaitu antara 55-85 hst (hari setelah tanam). Faktor yang paling berpengaruh terhadap umur panen adalah genetik dan lingkungan. Buah melon dengan varietas yang berbeda akan memiliki umur panen yang berbeda pula sekalipun ditanam pada kondisi lingkungan yang sama. Dan sebaliknya, varietas melon yang sama akan memiliki umur panen yang berbeda andaikata ditanam pada kondisi lingkungan yang berbeda, terutama ketinggian tempat.

CBR (California Bearing Ratio)

1. CALIFORNIA BEARING RATIO (CBR METHOD)
Pendahuluan
Metoda ini awalnya diciptakan oleh O.J poter kemudian di kembangkan oleh California State Highway Departement, kemudian dikembangkan dan dimodifikasi oleh Corps insinyur-isinyur tentara Amerika Serikat (U.S Army Corps of Engineers). Metode ini menkombinasikan percobaan pembebanan penetrasi di Laboratorium atau di Lapangan dengan rencana Empiris untuk menentukan tebal lapisan perkerasan. Hal ini digunakan sebagai metode perencanaan perkerasan lentur (flexible pavement) suatu jalan. Tebal suatu bagian perkerasan ditentukan oleh nilai CBR.
Defenisi
CBR merupakan suatu perbandingan antara beban percobaan (test load) dengan beban Standar (Standard Load) dan dinyatakan dalam persentase. Dinyatakan dengan rumus :

PT
CBR = x 100%
PS

Keterangan :
PT = beban percobaan (test load)
PS = beban standar (standar load)

Harga CBR adalah nilai yang menyatakan kualitas tanah dasar dibandingkan dengan bahan standar berupa batu pecah yang mempunyai nilai CBR sebesar 100% dalam memikul beban

Percobaan -Percobaan CBR
Percobaan-percobaan ini dapat dilakukan :
1. Percobaan di Laboratorium
standar yang berlaku :
Bina Marga : PB – 0113 – 76
ASTM : D – 1883 – 73
AASHTO : T - 193 – 81
 Tujuan : Untuk menentukan nilai daya dukung tanah dalam kepadatan maksimum
 Alat-alat yang digunakan :
Alat yang digunakan sama dengan alat-alat percobaan pemadatan standar maupun dengan modifikasi dengan spesifikasi seperti table berikut :
From mining engineering

From mining engineering

 Cara melakukan percobaan :
Percobaan C.B.R biasanya menggunakan contoh tanah dalam kadar air optimum.
Metode yang digunakan dalam metoda 2 atau standar ASTM D – 70 atau D – 1557 – 70. diameter tabung = 6 inci = 15 cm dan tinggi = 5 sampai 7 inci = 12,50 cm sampai 17,50 cm.
Dengan menggunakan dongkrak mekanis sebuah piston penetrasi ditekan supaya masuk ke dalam tanah dengan kecepatan tetap = 1,25 mm/menit dengan beban awal = 0,05 kN.
Pembebanan pada pluyer diamati pada penetrasi berturut-turut : 0.625 ; 1,250 ; 1,875 ; 2,500 ; 3,750 ; 5,000 ; 6,250 dan 7,500 mm.
hasil perhitungan ini di plot dalam kertas kurva.
2. percobaan di Lapangan
 Tujuan untuk melakukan nilali C.B.R asli di Lapangan sesuai dengan kondisi tanah saat iut. Biasanya digunaka untuk perencanaan tebal lapisan perkerasan yang perkerasan lapisan tanah dasarnya tidak akan dipadatkan lagi.pemeriksaan dilakukan dengan kondisi kadar air tanah tinggi.
 Alat-alat yang digunakan:
a. Truk dengan pembebanan
b. Piston penetrasi dari logam
c. Timbangan
d. Dongkrak hidrolisis atau mekanik
e. Arloji beban atau arloji cincin penguji lengkap dengan cincin pengujinya (proving ring)
f. Perlengkapan lainnya : rol meter, kunici dan lain-lain.
 Cara melakukan percobaan :
1) Di Lapangan
a. Tanah digali di lokasi yang telah ditentukan dan kemudian dibuat deskripsi secara visual
b. Tabung diletakkan dipermukaan tanah dan kemudian diberi beban melalui truk dengan dibantu dongkrak sebagai alat penekan
c. Cotoh tanah diambil sebanya k 2 tabung
d. Contoh tanah dibersihkan dan tutup rapat dan dibawa ke Laboratorium
e. Satu contoh langsung diuji dan yang lain direndam selama 4 x 24 jam.

2) Di Laboratorium
a. Beban statis diletakkan pada bagian atas tabung untuk mencegah pengembangan tanah dalam tabung
b. Arloji penunjuk beban dan arloji penetrasi dipasang dan angka dinolkan
c. Pembebanan dimulai dengan beraturan sesuai dengan urutan waktu maupun kedalaman yang ada pada forulir data.
d. Catat angka yang dibaca pada arloji pengukur pada formulir.

Jenis - Jenis CBR :
Berdasakan cara mendapatkan contoh tanahnya, CBR dapat dibagi menjadi :
1) CBR Lapangan (CBR inplace atau field Inplace)
• Digunakan untuk memperoleh nilai CBR asli di Lapangan sesuai dengan kondisi tanah pada saat itu. Umum digunakan untuk perencanaan tebal perkerasan yang lapisan tanah dasarnya tidak akan dipadatkan lagi. Pemeriksaan ini dilakukan dala kondisi kadar air tanah tinggi (musim penghujan), atau dalam kondisi terbuuk yang mungkin terjadi. Juga digunakan apakah kepadatan yang diperoleh dengan sesuai dengan yang kita inginkan
2) CBR lapangan rendaman (undisturbed soaked CBR)
• Digunakan untuk mendapatkan besarnya nilai CBR asli di Lapangan pada keadaan jenuh air dan tanah mengalami pengembangan (swell) yang maksimum
• Hal ini sering digunakan untuk menentukan daya dukung tanah di daerah yang lapisan tanah dasarnya tidak akan dipadatkan lagi, terletak pada daerah yang badan jalannya sering terendam air pada musim penghujan dan kering pada musim kemarau. Sedangkan pemeriksaan dilakukan di musim kemarau.
• Pemeriksaan dilakukan dengan menambil contoh tanah dalm tabung (mould) yang ditekan masuk kedalam tanah mencapai kedalaman yang diinginkan. Tabung berisi contoh tanah dikeluarkan dan direndam dalam air selama beberapa hari sambil diukur pengembangannya. Setelah pengembangan tidak terjadi lagi, barulah dilakukan pemeriksaan besarnya CBR.
3) CBR Laboratorium
• Tanah dasar (Subgrade) pada konstuksi jalan baru dapat berupa tanah asli, tanah timbunan atau tanah galian yang telah dipadatkan sampai menncapai kepadatan 95% kepadatan maksimum. Dengan demikian daya dukung tanah dasar tersebut merupakan nilai kemampuan lapisan tanah memikul beban setelah tanah tersebut dipadatkan. CBR ini disebut CBR laboratoium , karena disiapkan di Laboratorium. CBR Laboratorium dibedakan atas 2 macam, yaitu CBR Laboratorium rendaman dan BR Laboratorium tanpa rendaman

2) UKURAN BUTIR
Pembagian dari butir-butir tanah tergantung pada ukuran di dalam tanah Untuk bahan yang berbutir kasar. Pembagian ini dapat ditentukan dengan menyaring, dan untuk butir-butir yang halus digunakan suatu metoda pengukuran kecepatan penurunan dalam air. Penentuan pembagian ukuran butir dengan metoda-metoda tersebut dikenal sebagai analisis mekanis.
Ada sejumlah sistem-sistem klasifikasi ukuran butir yang dipakai, akan tetapi ”British Standard Institution” telah menerapkan sistem yang dikembangkan oleh ”Massachusetts Institute of Technology”, berhubung batas- batas pembagian utama yang dipakai kira-kira bersangkutan dengan perubahan-perubahan penting di dalam sifat-sifat teknis tanah.
From mining engineering

Analisis Kasar
Untuk analisis kasar, baik basah mapun kering dapat digunakan saringan. Dalam kedua keadaan suatu contoh tanah yang dikeringkan dalam tungku ditimbang dan dilewatkan melalui suatu kelompok saringan
Berat tanah kering yang tertahan diatas setiap saringan di catat dan dihitung persentase dari contoh total yang melewati setiap saringan.
Analisis Halus
Teori analisis halus adalah berdasarkan kepada hukum Stike mengenai penurunan (settlement), yaitu bola-bola kecil di dalam suatu cairan aka turun pada kecepatan-kecepatan yang berbeda, bergantung kepada ukuran bola tersebut.

Kamis, 30 Mei 2013

<center>
<!-- Start: http://www.freeflashplayer.info codes --><img src="//img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; height: 46px; width: 191px; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="BLOGGER_object_0" data-original-id="BLOGGER_object_0" /></center>
<center>
<a href="http://www.radiobarayasunda.com/"><span style="font-weight: bold;">www.radiobarayasunda.com</span></a></center>