Senin, 12 Agustus 2013
Sabtu, 10 Agustus 2013
Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi
Pelatihan Alat Survey ke Pantai Utara Jawa Karangsong, Kab. Indramayu, JaBar
1.1 Latar Belakang
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan merupakan salah satu kegiatan yang diusulkan dalam Program B2.1. Peningkatan kemampuan lulusan untuk mendukung riset dan layanan masyarakat melalui metoda pembelajaran Collaborative Learning. Proses pembelajaran secara collaborative learning diyakini dapat memfasilitasi penginkatan hard competence mahasiswa dengan lebih efektif karena prinsip dari collaborative learning adalah mahasiswa belajar dengan sangat baik apabila mahasiswa tersebut berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dengan pembimbingan yang sistematis dari para pakar (dosen dan expert). Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang terkait dalam peningkatan hard competence ini adalah workshop dengan ahli di bidang Teknik Kelautan.
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan merupakan salah satu kegiatan yang diusulkan dalam Program B2.1. Peningkatan kemampuan lulusan untuk mendukung riset dan layanan masyarakat melalui metoda pembelajaran Collaborative Learning. Proses pembelajaran secara collaborative learning diyakini dapat memfasilitasi penginkatan hard competence mahasiswa dengan lebih efektif karena prinsip dari collaborative learning adalah mahasiswa belajar dengan sangat baik apabila mahasiswa tersebut berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dengan pembimbingan yang sistematis dari para pakar (dosen dan expert). Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang terkait dalam peningkatan hard competence ini adalah workshop dengan ahli di bidang Teknik Kelautan.
1.2 Tujuan Kegiatan
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan ke lapangan bertujuan untuk meningkatkan hard competence mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan, yang sejalan dengan sejumlah kegiatan dalam Program B2.1 ini akan menginduksi atmosfir akademik yang baik, leadership, kemampuan komunikasi, kerja sama, profesionalisme mahasiswa yang lebih tinggi dan kemampuan dalam menggunakan alat-alat survey dalam bidang kelautan.
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan ke lapangan bertujuan untuk meningkatkan hard competence mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan, yang sejalan dengan sejumlah kegiatan dalam Program B2.1 ini akan menginduksi atmosfir akademik yang baik, leadership, kemampuan komunikasi, kerja sama, profesionalisme mahasiswa yang lebih tinggi dan kemampuan dalam menggunakan alat-alat survey dalam bidang kelautan.
1.3 Lokasi Kegiatan
Adapun lokasi kegiatan untuk Workshop dengan ahli kelautan ini adalah pada ruang 9311 gedung labtek VI Institut Teknologi Bandung di Jalan Ganesha no 10 Bandung.
1.4 Durasi KegiatanAdapun lokasi kegiatan untuk Workshop dengan ahli kelautan ini adalah pada ruang 9311 gedung labtek VI Institut Teknologi Bandung di Jalan Ganesha no 10 Bandung.
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Oktober 2008 mulai pukul 11.00 dan berakhir pukul 16.00
1.5 Sumber Pendanaan
Kegiatan ini sepenuhnya dibiayai oleh Program Hibah Kompetensi Berbasis Institusi 2008 dan didukung oleh Program Studi Teknik Kelautan ITB.
Kegiatan ini sepenuhnya dibiayai oleh Program Hibah Kompetensi Berbasis Institusi 2008 dan didukung oleh Program Studi Teknik Kelautan ITB.
1.6 Kinerja Capaian
Setelah kegiatan ini berlangsung diterbitkan sertifikat sebanyak buah untuk Peserta Ekskursi dan 3 buah plakat untuk narasumber dalam Workshop Teknik Kelautan.
Setelah kegiatan ini berlangsung diterbitkan sertifikat sebanyak buah untuk Peserta Ekskursi dan 3 buah plakat untuk narasumber dalam Workshop Teknik Kelautan.
2.1 Pendahuluan Pelaksanaan
Pada pukul 06.00 pagi,para pesrta ekskursi direncanakan sudah berkumpul di gerbang depan ITB dengan 30 menit dialokasikan untuk absen peserta dan mempersiapkan segala akomodasi. Dalam persiapan akan diberitahukan kepada peserta garis besar acara oleh Pak Hendra Achiari. Dijelaskan dalam garis besar antara lain lama perjalanan kira-kira 3 jam dan kita akan mengadakan ekskursi di tempat pelelangan ikan yang bertempat di kelurahan Karangsong, kabupaten Indramayu yang kebetulan sedang dilakukan pembangunan pada perlindungan pantainya. Kegiatan yang akan dilakukan disana dapat dilihat pada modul,yaitu ada pengukuran pada theodolit,pengukuran gelombang menggunakan TWR,penggunaan GPS Echosounder serta penggunaan Bottomgrabber. Setelah itu seluruh peserta dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok kira-kira berjumlah 7-8 orang.
Bis yang berjumlah dua buah datang sekitar pukul 06.30 dan peserta langsung naik dengan pembagian bis telah diatur oleh panitia. Pada saat berangkat para peserta hanya dibimbing oleh dua orang dosen yaitu Pak Hendra A dan Pak Hendriyawan. Pada saat perjalanan di dalam bis dibagikan fasilitas makan pagi yang telah disediakan panitia. Keberangkatan bis diperkirakan pada pukul 07.30. Perjalanan menempuh kira-kira 3 jam dengan istirahat pada pom bensin kabupaten Indramayu.
Kedatangan diperkirakan pada pukul 10.00 dilanjutkan briefing oleh Pak Harman dan 3 orang panitia serta perwakilan dari laboratorium gelombang. Pada briefing dijelaskan akan ada 2 macam kegiatan yaitu kegiatan di darat dan kegiatan di laut. Setiap kegiatan akan dilakukan oleh 3 kelompok secara bergantian. Kegiatan di darat akan dibimbing oleh pak Harman dan kegiatan laut akan dibimbing oleh pak Hendra A dan pak Hendriyawan. Pergantian kegiatan nantinya akan dijadwalkan dengan istirahat,sholat dan makan yang telah disediakan oleh perwakilan warga yaitu di kantor lurah Karangsong.
Kegiatan darat yang dibimbing oleh pak Harman lebih banyak berisi tentang penjelasan pada pembangunan pada pantai tersebut. Pantai tersebut direncanakan akan dibangun beberapa perlindungan antara lain tripod,kubus pelindung pantai, batu-batu kecil yang dibungkus dengan kawat yang sering disebut brongsong untuk semuanya dijadikan satu menjadi satu sistem perlindungan jetty yang menjorok ke laut. Jetty yang dijadikan sebagai penjelasan merupakan jetty yang telah hampir selesai oleh perencanaan perlindungan yang telah disebutkan. Pekerjaan pembangunan perlindungan pantai Karangsong ini kira-kira telah berlangsung hampir 7 bulan. Ditunjukkan juga dalam penjelasan tersebut air laut yang berwarna sedikit hitam karena kilang minyak Balongan yang ada di pantai seberang. Pak Harman mengatakan banyak warga yang mengeluh akibat pencemaran tersebut.
Selanjutnya akan diadakan pengukuran yang bertempat di ujung jetty pertama dari dua jetty yang direncanakan akan dibangun. Pengukuran menggunakan theodolit ini dijelaskan oleh satu orang setelah itu para peserta akan mencobanya sendiri dengan memindahkan sedikit kedudukan theodolit sehingga hasil yang didapat kelompok akan berbeda satu sama lain. Alat yang digunakan berupa alat pengamat dan penanda yang ada cukup jauh di depannya. Alat ini akan dapat mengukur ketinggian tempat tersebut serta jaraknya dari benchmark, yaitu tempat diletakkannya alat pengamat tersebut. Penjelasan dan percobaan yang dilakukan peserta kira-kira selama 3 jam.
Pengukuran laut dibimbing oleh pak Hendriyawan dan pak Hendra A dengan menggunakan kapal warga setempat yang bernama KM.Biawak. Pengukuran alat ini harus ditempuh dengan perjalanan 15 menit dari pantai karena laut dekat pantai telah terlindungi oleh jetty sehingga air lautnya terlalu tenang untuk dilakukan pengukuran. Pengukuran yang dilakukan disini lebih banyak sehingga ada beberapa percobaan yang dilakukan bersama-sama sehingga tiap kelompok harus membagi konsentrasi agar setiap percobaan mendapat perwakilan dalam mencatat pengukuran dan merekam hasilnya. Pengamatan yang dilakukan antara lain GPS Echosounder, TWR dan alat perekam gelombang serta Bottomgrabber. GPS dan TWR dapat langsung dihubungkan dengan komputer. Sedangkan alat perekam gelombang akan mencatat dalam periode tertentu sehingga nantinya dapat dilihat hasilnya. Tetapi karena penggunaan alat perekam gelombang harus minimal 24 jam agar mendapat pengaruh pasang surut,akhirnya pengamatan ini hanya ditunjukkan berupa pemasangan dan pengambilan alatnya dari laut. Bottomgrabber menghasilkan berupa sampel tanah yang dapat dianalisis di laboratorium nantinya.
Kedua percobaan dengan waktu ishomanya berakhir pukul 15.00. Para peserta diberi waktu bebas kira-kira satu jam sebelum bis kembali ke ITB. Bis meninggalkan Karangsong kira-kira pukul 16.00 untuk melakukan perjalanan pulang. Istirahat sholat dilakukan di masjid terdekat dengan pantai Karangsong sebelum ada istirahat makan di salah satu food court dan cindera mata Indramayu setempat. Para peserta dan dosen pembimbing sampai dengan selamat pada pukul 20.30 di depan gerbang ITB sebagai akhir dari perjalanan ekskursi Karangsong, Indramayu.
Pada pukul 06.00 pagi,para pesrta ekskursi direncanakan sudah berkumpul di gerbang depan ITB dengan 30 menit dialokasikan untuk absen peserta dan mempersiapkan segala akomodasi. Dalam persiapan akan diberitahukan kepada peserta garis besar acara oleh Pak Hendra Achiari. Dijelaskan dalam garis besar antara lain lama perjalanan kira-kira 3 jam dan kita akan mengadakan ekskursi di tempat pelelangan ikan yang bertempat di kelurahan Karangsong, kabupaten Indramayu yang kebetulan sedang dilakukan pembangunan pada perlindungan pantainya. Kegiatan yang akan dilakukan disana dapat dilihat pada modul,yaitu ada pengukuran pada theodolit,pengukuran gelombang menggunakan TWR,penggunaan GPS Echosounder serta penggunaan Bottomgrabber. Setelah itu seluruh peserta dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok kira-kira berjumlah 7-8 orang.
Bis yang berjumlah dua buah datang sekitar pukul 06.30 dan peserta langsung naik dengan pembagian bis telah diatur oleh panitia. Pada saat berangkat para peserta hanya dibimbing oleh dua orang dosen yaitu Pak Hendra A dan Pak Hendriyawan. Pada saat perjalanan di dalam bis dibagikan fasilitas makan pagi yang telah disediakan panitia. Keberangkatan bis diperkirakan pada pukul 07.30. Perjalanan menempuh kira-kira 3 jam dengan istirahat pada pom bensin kabupaten Indramayu.
Kedatangan diperkirakan pada pukul 10.00 dilanjutkan briefing oleh Pak Harman dan 3 orang panitia serta perwakilan dari laboratorium gelombang. Pada briefing dijelaskan akan ada 2 macam kegiatan yaitu kegiatan di darat dan kegiatan di laut. Setiap kegiatan akan dilakukan oleh 3 kelompok secara bergantian. Kegiatan di darat akan dibimbing oleh pak Harman dan kegiatan laut akan dibimbing oleh pak Hendra A dan pak Hendriyawan. Pergantian kegiatan nantinya akan dijadwalkan dengan istirahat,sholat dan makan yang telah disediakan oleh perwakilan warga yaitu di kantor lurah Karangsong.
Kegiatan darat yang dibimbing oleh pak Harman lebih banyak berisi tentang penjelasan pada pembangunan pada pantai tersebut. Pantai tersebut direncanakan akan dibangun beberapa perlindungan antara lain tripod,kubus pelindung pantai, batu-batu kecil yang dibungkus dengan kawat yang sering disebut brongsong untuk semuanya dijadikan satu menjadi satu sistem perlindungan jetty yang menjorok ke laut. Jetty yang dijadikan sebagai penjelasan merupakan jetty yang telah hampir selesai oleh perencanaan perlindungan yang telah disebutkan. Pekerjaan pembangunan perlindungan pantai Karangsong ini kira-kira telah berlangsung hampir 7 bulan. Ditunjukkan juga dalam penjelasan tersebut air laut yang berwarna sedikit hitam karena kilang minyak Balongan yang ada di pantai seberang. Pak Harman mengatakan banyak warga yang mengeluh akibat pencemaran tersebut.
Selanjutnya akan diadakan pengukuran yang bertempat di ujung jetty pertama dari dua jetty yang direncanakan akan dibangun. Pengukuran menggunakan theodolit ini dijelaskan oleh satu orang setelah itu para peserta akan mencobanya sendiri dengan memindahkan sedikit kedudukan theodolit sehingga hasil yang didapat kelompok akan berbeda satu sama lain. Alat yang digunakan berupa alat pengamat dan penanda yang ada cukup jauh di depannya. Alat ini akan dapat mengukur ketinggian tempat tersebut serta jaraknya dari benchmark, yaitu tempat diletakkannya alat pengamat tersebut. Penjelasan dan percobaan yang dilakukan peserta kira-kira selama 3 jam.
Pengukuran laut dibimbing oleh pak Hendriyawan dan pak Hendra A dengan menggunakan kapal warga setempat yang bernama KM.Biawak. Pengukuran alat ini harus ditempuh dengan perjalanan 15 menit dari pantai karena laut dekat pantai telah terlindungi oleh jetty sehingga air lautnya terlalu tenang untuk dilakukan pengukuran. Pengukuran yang dilakukan disini lebih banyak sehingga ada beberapa percobaan yang dilakukan bersama-sama sehingga tiap kelompok harus membagi konsentrasi agar setiap percobaan mendapat perwakilan dalam mencatat pengukuran dan merekam hasilnya. Pengamatan yang dilakukan antara lain GPS Echosounder, TWR dan alat perekam gelombang serta Bottomgrabber. GPS dan TWR dapat langsung dihubungkan dengan komputer. Sedangkan alat perekam gelombang akan mencatat dalam periode tertentu sehingga nantinya dapat dilihat hasilnya. Tetapi karena penggunaan alat perekam gelombang harus minimal 24 jam agar mendapat pengaruh pasang surut,akhirnya pengamatan ini hanya ditunjukkan berupa pemasangan dan pengambilan alatnya dari laut. Bottomgrabber menghasilkan berupa sampel tanah yang dapat dianalisis di laboratorium nantinya.
Kedua percobaan dengan waktu ishomanya berakhir pukul 15.00. Para peserta diberi waktu bebas kira-kira satu jam sebelum bis kembali ke ITB. Bis meninggalkan Karangsong kira-kira pukul 16.00 untuk melakukan perjalanan pulang. Istirahat sholat dilakukan di masjid terdekat dengan pantai Karangsong sebelum ada istirahat makan di salah satu food court dan cindera mata Indramayu setempat. Para peserta dan dosen pembimbing sampai dengan selamat pada pukul 20.30 di depan gerbang ITB sebagai akhir dari perjalanan ekskursi Karangsong, Indramayu.
2.2 Pengukuran Batimetri
Survei ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kontur kedalaman yang berupa angka kedalaman serta posisi kenampakan yang ada di areal lokasi pekerjaan beserta areal sekitarnya. Areal survei memanjang sejajar dengan garis pantai. Areal yang disurvei batimetri adalah berupa areal memanjang garis pantai. Hasilnya kemudian akan dipetakan dengan skala dan interval kontur tertentu.
Peralatan survei yang diperlukan pada pengukuran batimetri adalah :
i. Echo Sounder GPSMap dan perlengkapannya. Gambar alat ini disajikan pada Gambar 2.1.
ii. Notebook. Satu unit portable computer diperlukan untuk menyimpan data yang di-download dari alat GPS Map setiap 300 kali pencatatan data.
iii. Perahu. Perahu digunakan untuk membawa surveyor dan alat-alat pengukuran menyusuri jalur-jalur sounding yang telah ditentukan. Dalam operasinya, perahu tersebut harus memiliki beberapa kriteria, antara lain:
- Perahu harus cukup luas dan nyaman untuk para surveyor dalam melakukan kegiatan pengukuran dan downloading data dari alat ke komputer, dan lebih baik tertutup dan bebas dari getaran mesin.
- Perahu harus stabil dan mudah bermanuver pada kecepatan rendah.
- Kapasitas bahan bakar harus sesuai dengan panjang jalur sounding.
iv. Papan duga. Papan duga digunakan pada kegiatan pengamatan fluktuasi muka air laut yang dilakukan di pantai selama waktu pengukuran batimetri guna dijadikan bahan koreksi terhadap fluktuasi muka air laut.
v. Peralatan keselamatan. Peralatan keselamatan yang diperlukan selama kegiatan survei dilakukan antara lain life jacket.
Survei ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kontur kedalaman yang berupa angka kedalaman serta posisi kenampakan yang ada di areal lokasi pekerjaan beserta areal sekitarnya. Areal survei memanjang sejajar dengan garis pantai. Areal yang disurvei batimetri adalah berupa areal memanjang garis pantai. Hasilnya kemudian akan dipetakan dengan skala dan interval kontur tertentu.
Peralatan survei yang diperlukan pada pengukuran batimetri adalah :
i. Echo Sounder GPSMap dan perlengkapannya. Gambar alat ini disajikan pada Gambar 2.1.
ii. Notebook. Satu unit portable computer diperlukan untuk menyimpan data yang di-download dari alat GPS Map setiap 300 kali pencatatan data.
iii. Perahu. Perahu digunakan untuk membawa surveyor dan alat-alat pengukuran menyusuri jalur-jalur sounding yang telah ditentukan. Dalam operasinya, perahu tersebut harus memiliki beberapa kriteria, antara lain:
- Perahu harus cukup luas dan nyaman untuk para surveyor dalam melakukan kegiatan pengukuran dan downloading data dari alat ke komputer, dan lebih baik tertutup dan bebas dari getaran mesin.
- Perahu harus stabil dan mudah bermanuver pada kecepatan rendah.
- Kapasitas bahan bakar harus sesuai dengan panjang jalur sounding.
iv. Papan duga. Papan duga digunakan pada kegiatan pengamatan fluktuasi muka air laut yang dilakukan di pantai selama waktu pengukuran batimetri guna dijadikan bahan koreksi terhadap fluktuasi muka air laut.
v. Peralatan keselamatan. Peralatan keselamatan yang diperlukan selama kegiatan survei dilakukan antara lain life jacket.
A. Jalur Pemeruman (Sounding Trace)
Jalur sounding adalah jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik awal sampai ke titik akhir dari kawasan survei. Panjang jalur sounding dari darat ke arah laut lepas yang harus dikaji harus ditetapkan terlebih dahulu.
Jalur sounding adalah jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik awal sampai ke titik akhir dari kawasan survei. Panjang jalur sounding dari darat ke arah laut lepas yang harus dikaji harus ditetapkan terlebih dahulu.
B. Pengambilan Data Kedalaman Perairan dan Posisi Horisontal
Untuk tiap jalur sounding dilakukan pengambilan data kedalaman perairan dengan interval tertentu mengunakan GPSMap 188 Sounder Garmin, alat ini mempunyai kemampuan untuk mengukur kedalaman perairan dengan menggunakan gelombang suara yang dipantulkan ke dasar perairan serta mencatatnya ke dalam notebook.
Selain mencatat kedalaman dari titik-titik yang diambil, GPSMap juga mencatat koordinat X dan Y dari titik-titik tersebut. Alat ini mempunyai fasilitas GPS (Global Positioning System) yang akan memberikan posisi alat pada kerangka horisontal dengan bantuan satelit, dimana proyeksi yang digunakan adalah menggunakan Universal Transverse Mercator (UTM) dengan datum WGS 84. Dengan fasilitas ini, kontrol posisi dalam kerangka horisontal dari suatu titik tetap di darat tidak lagi diperlukan.
Untuk tiap jalur sounding dilakukan pengambilan data kedalaman perairan dengan interval tertentu mengunakan GPSMap 188 Sounder Garmin, alat ini mempunyai kemampuan untuk mengukur kedalaman perairan dengan menggunakan gelombang suara yang dipantulkan ke dasar perairan serta mencatatnya ke dalam notebook.
Selain mencatat kedalaman dari titik-titik yang diambil, GPSMap juga mencatat koordinat X dan Y dari titik-titik tersebut. Alat ini mempunyai fasilitas GPS (Global Positioning System) yang akan memberikan posisi alat pada kerangka horisontal dengan bantuan satelit, dimana proyeksi yang digunakan adalah menggunakan Universal Transverse Mercator (UTM) dengan datum WGS 84. Dengan fasilitas ini, kontrol posisi dalam kerangka horisontal dari suatu titik tetap di darat tidak lagi diperlukan.
C. Koreksi Terhadap Kedalaman
Data yang tercatat pada alat GPSMap adalah jarak antara transducer alat ke dasar perairan. Transducer tersebut diletakkan di bagian belakang kapal, di bawah permukaan air yang terpengaruh oleh pasang surut. Oleh sebab itu diperlukan suatu koreksi kedalaman terhadap jarak transducer ke permukaan air dan koreksi kedalaman terhadap pasang surut. Gambar 2.3 menampilkan sketsa definisi besaran-besaran panjang yang terlibat dalam proses koreksi tersebut.
Data yang tercatat pada alat GPSMap adalah jarak antara transducer alat ke dasar perairan. Transducer tersebut diletakkan di bagian belakang kapal, di bawah permukaan air yang terpengaruh oleh pasang surut. Oleh sebab itu diperlukan suatu koreksi kedalaman terhadap jarak transducer ke permukaan air dan koreksi kedalaman terhadap pasang surut. Gambar 2.3 menampilkan sketsa definisi besaran-besaran panjang yang terlibat dalam proses koreksi tersebut.
D. Pengikatan Terhadap Elevasi Referensi
Hasil dari koreksi pertama (koreksi terhadap jarak transducer ke muka air dan terhadap pasang surut) menghasilkan elevasi dasar perairan terhadap nol papan duga. Elevasi ini kemudian diikatkan kepada elevasi LLWL. Pengikatan terhadap LLWL dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut ini:
dimana:Hasil dari koreksi pertama (koreksi terhadap jarak transducer ke muka air dan terhadap pasang surut) menghasilkan elevasi dasar perairan terhadap nol papan duga. Elevasi ini kemudian diikatkan kepada elevasi LLWL. Pengikatan terhadap LLWL dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut ini:
EDLWS = elevasi dasar perairan relatif terhadap LLWL
ED = elevasi dasar perairan relatif terhadap nol papan duga
ELWS = elevasi LWS relatif terhadap nol papan duga
2.3 Pemakaian Alat Ukur Theodolit
Pengukuran situasi rinci dilakukan dengan cara tachymetri dengan menggunakan alat ukur Theodolite kompas (T0). Dengan cara ini diperoleh data-data sebagai berikut:
Pengukuran situasi rinci dilakukan dengan cara tachymetri dengan menggunakan alat ukur Theodolite kompas (T0). Dengan cara ini diperoleh data-data sebagai berikut:
- Azimuth Magnetis
- Pembacaan benang diafragma (atas, tengah, bawah)
- Sudut zenith atau sudut miring
- Tinggi alat ukur
Spesifikasi pengukuran situasi adalah sebagai berikut:
- Metoda yang digunakan adalah tachymetri dengan membuat jalur/ray, dimana setiap ray terikat pada titik-titik poligon sehingga membentuk jalur poligon dan waterpass terikat sempurna.
- Pembacaan rinci dilakukan menyebar ke seluruh areal yang dipetakan dengan kerapatan disesuaikan dengan skala peta yang akan dibuat. Gundukan tanah, batu-batu besar yang mencolok serta garis pantai akan diukur dengan baik. Juga bangunan-bangunan yang penting dan berkaitan dengan pekerjaan design akan diambil posisinya.
- Setiap ujung bangunan diambil posisinya dan untuk pengecekan peta, jarak antara ujung-ujung bangunan yang bersebelahan juga akan diukur.
2.4 Pemakaian Alat Ukur Waterpas
Penentuan posisi vertikal titik-titik kerangka dasar dilakukan dengan pengukuran beda tinggi antara dua titik terhadap bidang referensi (LLWL) seperti yang digambarkan pada Gambar 2.5.
Pengukuran waterpas mengikuti ketentuan sebagai berikut:Penentuan posisi vertikal titik-titik kerangka dasar dilakukan dengan pengukuran beda tinggi antara dua titik terhadap bidang referensi (LLWL) seperti yang digambarkan pada Gambar 2.5.
- Jalur pengukuran dibagi menjadi beberapa seksi.
- Tiap seksi dibagi menjadi slag yang genap.
- Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang dan rambu belakang menjadi rambu muka.
- Pengukuran dilakukan double stand pergi pulang pembacaan rambu lengkap (Bt, Ba, Bb).
- Selisih pembacaan stand 1 dengan stand 2 < 2 mm.
- Jarak rambu ke alat maksimum 75 m.
- Setiap awal dan akhir pengukuran dilakukan pengecekan garis bidik.
- Toleransi salah penutup beda tinggi (T).
T =
D = Jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam satu kilo meter.
D = Jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam satu kilo meter.
2.5 Pemakaian Alat Ukur Arus
Tujuan pengukuran arus adalah untuk mendapatkan besaran kecepatan dan arah arus yang akan berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal. Pengukuran arus dilaksanakan pada kondisi neap dan spring. Data arus ini akan digunakan sebagai data kalibrasi model dan data untuk penghitungan debit sungai. Alat yang digunakan dapat berupa currentmeter jenis doppler misalnya Aanderaa RCM-9, jenis baling-baling ataupun cara manual. Ketelitian alat yang disyaratkan untuk pengukuran kecepatan arus sebesar 20% dan 100 untuk arah arus. Metoda pelaksanaan pengukuran ini dijelaskan sebagai berikut:
Tujuan pengukuran arus adalah untuk mendapatkan besaran kecepatan dan arah arus yang akan berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal. Pengukuran arus dilaksanakan pada kondisi neap dan spring. Data arus ini akan digunakan sebagai data kalibrasi model dan data untuk penghitungan debit sungai. Alat yang digunakan dapat berupa currentmeter jenis doppler misalnya Aanderaa RCM-9, jenis baling-baling ataupun cara manual. Ketelitian alat yang disyaratkan untuk pengukuran kecepatan arus sebesar 20% dan 100 untuk arah arus. Metoda pelaksanaan pengukuran ini dijelaskan sebagai berikut:
- Pengukuran arus dilakukan pada beberapa lokasi dimana arus mempunyai
pengaruh penting. Penempatan titik pengamatan ini disesuaikan dengan
kondisi oseanografi lokal dan ditentukan hasil studi pengamatan / survei
pendahuluan (reconnaissance survey).
Yang dilakukan adalah: pengukuran distribusi kecepatan, dalam hal ini pengukuran dilakukan di beberapa penampang dan di 3 kedalaman dalam satu penampang.
Berdasarkan teori yang ada, kecepatan arus rata-rata pada suatu penampang yang besar adalah :
V = 0.25 ( V0.2d + 2xV0.6d + V0.8d)
dimana :
= arus pada kedalaman 0.2d
D= kedalaman lokasi pengamatan arus. - Pengamatan kecepatan arus dilakukan di kedalaman 0.2d, 0.6d, 0.8d seperti pada Gambar 2.7 Pengukuran dilakukan secara “spot”, dari satu titik ke titik lain.
- Untuk keperluan kalibrasi atas model numerik yang akan dibahas pada bagian selanjutnya, pengukuran arus minimal dilaksanakan pada saat tunggang pasang-surut besar atau pada masa purnama (neap).
- Di samping besar arus, arah arus juga diamati.
2.6 Pengambilan Contoh Sedimen Dasar
Pengambilan contoh sedimen layang dilakukan pada lokasi yang sudah ditentukan. Metoda pengambilan contoh sedimen dasar diilustrasikan pada Gambar 2.9. Kemudian hasil sampel diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan sedimennya. Pengambilan sampel sedimen dasar menggunakan satu unit grabber seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.10. Grabber dengan kondisi “mulut” terbuka diturunkan dengan menjulur tali hingga membentur tanah dasar laut. Saat tali ditarik kembali, secara otomatis mulut grabber akan menggaruk material di bawahnya hingga tertutup. Dengan demikian grabber yang telah memuat material dasar ditarik ke atas. Sampel material dasar tersebut dimasukkan ke dalam wadah plastik yang diberi tanda untuk dites di laboratorium untuk mengetahui gradasi butirannya.
Data kandungan sedimen dan gradasi butiran merupakan parameter yang diperlukan untuk pemodelan sedimentasi, sehingga dapat diketahui pola sedimentasi di lokasi kajian.
Pengambilan contoh sedimen layang dilakukan pada lokasi yang sudah ditentukan. Metoda pengambilan contoh sedimen dasar diilustrasikan pada Gambar 2.9. Kemudian hasil sampel diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan sedimennya. Pengambilan sampel sedimen dasar menggunakan satu unit grabber seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.10. Grabber dengan kondisi “mulut” terbuka diturunkan dengan menjulur tali hingga membentur tanah dasar laut. Saat tali ditarik kembali, secara otomatis mulut grabber akan menggaruk material di bawahnya hingga tertutup. Dengan demikian grabber yang telah memuat material dasar ditarik ke atas. Sampel material dasar tersebut dimasukkan ke dalam wadah plastik yang diberi tanda untuk dites di laboratorium untuk mengetahui gradasi butirannya.
Data kandungan sedimen dan gradasi butiran merupakan parameter yang diperlukan untuk pemodelan sedimentasi, sehingga dapat diketahui pola sedimentasi di lokasi kajian.
2.7 Pemakaian Alat Ukur Gelombang
Survei pengukuran gelombang menggunakan Pressure Wave Gauge yang diletakkan pada dasar laut. Peralatan yang digunakan adalah TWR2050. Gambar 2.12 menunjukkan sketsa pengukuran gelombang. Prinsip dari pengukuran adalah tekanan air dinamik dan statik pada lokasi wave gauge. Hasil pengukuran runut waktu tekanan air ini kemudian difilter dan dengan rumus gelombang linear yakni ŋ (free surface) = fungsi (pressure) dari teori gelombang linear, data tekanan air ini dirubah menjadi data profil permukaan air (free surface). Selanjutnya dengan metoda Zero Up Crossing dapat diperoleh runut waktu tinggi gelombang dan periodanya. Kemudian dengan metoda statistik dapat dicari H1/3 (Hs = Tinggi gelombang signifikan) yang terjadi. Gambar 2.13 menunjukkan diagram dari proses pengambilan data.
Survei pengukuran gelombang menggunakan Pressure Wave Gauge yang diletakkan pada dasar laut. Peralatan yang digunakan adalah TWR2050. Gambar 2.12 menunjukkan sketsa pengukuran gelombang. Prinsip dari pengukuran adalah tekanan air dinamik dan statik pada lokasi wave gauge. Hasil pengukuran runut waktu tekanan air ini kemudian difilter dan dengan rumus gelombang linear yakni ŋ (free surface) = fungsi (pressure) dari teori gelombang linear, data tekanan air ini dirubah menjadi data profil permukaan air (free surface). Selanjutnya dengan metoda Zero Up Crossing dapat diperoleh runut waktu tinggi gelombang dan periodanya. Kemudian dengan metoda statistik dapat dicari H1/3 (Hs = Tinggi gelombang signifikan) yang terjadi. Gambar 2.13 menunjukkan diagram dari proses pengambilan data.
Survey Bathimetry
Minggu, September 19, 2010
Konsep Dasar Survei Batimetri menggunakan Echosounder
Saya masih ingat ketika jaman kuliah dulu, pada mata kuliah survei batimetri 1, kami hanya mendengar cerita tentang sounding saja, sayapun hanya bisa meraba raba dan pada ujian akhir hampir 70% soal justru bertanya seputar teori bukan hitungan.( saya sebenarnya agak iri dengan jurusan yang sama di Univ. yang ada di Bandung, Semarang, Surabaya. Hampir semua mahasiswanya ada praktikum Survei Batimetri langsung di Pelabuhan ). Pada mata kuliah survei bathimetri 2 pun juga kurang lengkap, karena beberapa kali kelas kosong lalu tiba2 ujian akhir tanpa punya catatan di semester itu, akhirnya karena soal2nya disuruh menggambar, saya dengan bodohnya menggambar garis lurus bergelombang yang menyerupai pegunungan. ( sangking bingungnya mau gambar apa lagi ).. eh di papan nilai... anehnya nilai saya B..... hahaha...dari mana coba tuh nilai bisa B??
Karena saya diterima bekerja di bidang Offshore Hidrografi,awalnya saya melongo-melongo,, gag ngerti ini itu.. orang2 pada ngomongin “swift”,, ada juga “ diurnal dan admiralty”.. saya Cuma garuk garuk kepala. Tapi saat ini saya sudah cukup memahami tentang konsep dasar hidrografi, karena itu saya ingin mensharekan ilmu ini agar berguna bagi rekan2 geodesi.. Tanpa berlama lama, saya akan segera membahasnya :
Konsep Survei Batimetri menggunakan Echosounder

“Apa sih survei batimetri itu?” . Survei batimetri adalah survei yang dilakukan untuk mengetahui nilai kedalaman dari dasar laut. Lalu tujuan nya buat apa ??.. Tujuan nya macam2.. ada yang untuk pengerukan pelabuhan, perencanaan bangunan di laut ( pelabuhan, Platform, sumur minyak), dll.
Alat yang dibutuhkan untuk pengukuran dasar laut ini ada dua macam, diantaranya Echosounder Single Frekwensi dan Echosounder Double Frekwensi. Bedanya apa sih?.. Bedanya adalah kalau single frekwensi hanya menggunakan frekwensi Tinggi saja (kedalaman hanya sampai lapisan paling atas dari tanah ) , artinya kedalaman tidak bisa menembus lumpur ( Contoh alat :Echosounder Hydrotrac ODOM ). Kalau Echosounder Double frekwensi, terdapat 2 frekwensi yang digunakan sekaligus, yaitu frekwensi tinggi ( untuk pengukuran kedalaman dasar laut teratas ) dan frekwensi rendah ( untuk pengukuran kedalaman dasar laut yang dapat menembus lumpur ), sehingga ada 2 data kedalaman sekaligus yang didapatkan.( Contoh alat : Echosounder MK III).Instalasi Alat yang dipergunakan untuk pengukuran batimetri adalah :
a. GPS Antena : Untuk mendapatkan data posisi koordinat
b. Tranducer : Alat yang memancarkan sinyal akustik ke dasar laut untuk data kedalaman
c. Echosounder : Alat yang menampilkan angka kedalaman
d. Laptop : Untuk pengoperasian yang mengintegrasikan GPS, tranducer, dan echosounder.
Kosep positioning GPS pada Echosounder
Untuk saat ini, pada berbagai kapal survei sudah menggunakan GPS dengan metode pengukuran DGPS dengan kepanjangan Differential Global Positioning System. Mungkin anda bertanya , apa bedanya pengukuran posisi menggunakan DGPS dan GPS RTK.. Jawaban nya adalah Jelas Berbeda.. Mungkin beberapa dari anda sudah mengetahui, bahwa pada metode RTK , BASE station lah yang memberikan nilai koreksi kepada ROVER station. Sedangkan pada DGPS, BASE station yang berada di beberapa negara diantaranya Singapura, Australia, Indonesia. BASE ini memberikan nilai koreksi kepada SATELIT ( bukan ROVER ). Koreksinya bermacam macam , bisa koreksi Jam satelit, koreksi kesalahan orbit satelit, dll.
Metode DGPS ini memiliki ketelitian cukup tinggi sampai level centimeter, namun untuk menggunakan nya. Setiap orang/ perusahaan harus membayar kepada perusahaan yang memberikan jasa pelayanan DGPS diantaranya C-NAV dan VERIPOS. Saya kurang tahu untuk harganya, mungkin bisa langsung dicek di halaman websitenya. Hehe..
Menggunakan metode DGPS ini, dimanapun posisi kapal berada, kita bisa langsung mendapatkan koordinat kapal secara teliti. Koordinat bisa dalam informasi Latitude longitude,bisa juga dalam sistem koordinat lokal tergantung yang diinginkan (diperhatikan Datum, elipsoid, Spheroid )
Kosep pengukuran kedalaman pada Echosounder
Untuk pengukuran kedalaman, sensor yang digunakan adalah Transducer. Tranducer ini dapat ditaruh di samping kapal dan berada dibawah permukaan air. Sensor ini cukup sensitif, karena ada buble sedikit saja, sinyal yang dipancarkan sudah terganggu. Sehingga kita perlu mengatur speed kapal sedemikian rupa agar Tranducer masih dapat membaca nilai kedalaman ( Biasanya kecepatan kapal 3 – 6 Knot saja )
Tranducer memancarkan sinyal2 akustik ke bawah permukaan laut. Sebenarnya prinsipnya hampir sama seperti pengukuran jarak menggunakan total station. Rumusnya : Jarak = ( Kecepatan gelombang x Waktu ) / 2.. Kenapa dibagi 2?? Karena jarak yang ditempuh kan bolak balik, jadi dibagi 2 supaya jarak one way saja yang didapatkan
Jika kita mengoperasikan alat Echosounder. Ada beberapa parameter yang perlu kita inputkan ke dalam echosounder, diantaranya :
a. Draft : Jarak antara permukaan air dengan ujung sensor tranducer paling bawah
b. Velocity : Cepat rambat gelombang
c. Index : Nilai koreksi kedalaman.
Setiap kali sebelum melakukan pengukuran batimetri kedalaman dasar laut, kita harus melakukan kalibrasi Barcheck.. Prinsip kerjanya sederhana saja, pertama kita ukur draft ( jarak permukaan air ke sensor ), kemudian kita inputkan ke dalam echosounder, setelah itu barcheck kita taruh di kedalaman 1 meter dekat dengan sensor tranducer . Logikanya kan seharusnya pada barcheck 1 meter, angka yang dibaca di echosounder juga 1 m...Namun biasanya tidak 1 meter, tetapi 1,2 meter atau lebih... Nah karena itu.. Kita harus merubah parameter Velocity dan Indeks sedemikian rupa sampai kedalaman pada barcheck 1 meter,dan angka yang dibaca echosounder juga 1 meter...
NB: Velocity dipengaruhi oleh tekanan air, temperature, salinitas air, dll. Contoh, pada daerah sungai, biasanya velocity seputaran 1520 – 1530.. Namun tiap daerah, besar velocity berbeda beda. Untuk mendapatkan nilai Velocity secara teliti, diperlukan pengukuran menggunakan CTD, sedangkan untuk keperluan praktis, cukup menggunakan adjust barcheck saja.
Konsep Pasang Surut

Kenapa pasang surut bisa terjadi? Pasang surut dapat terjadi disebabkan oleh Gravitasi matahari, gravitasi bulan, gaya sentrifugal akibat rotasi bumi, dll. Walaupun bulan lebih kecil dari matahari, tetapi justru grafitasi bulan lah yang memberikan pengaruh lebih besar terhadap pasang surut di bumi dikarenakan jarak yang lebih dekat antara bumi ke bulan dibanding bumi ke matahari.
Kalau anda melihat pada gambar diatas, terdapat bermacam macam posisi kedalaman dari permukaan air laut. Contohnya ada MSL ( rata2 permukaan air laut ), CD ( surut terendah ), dll. Informasi posisi permukaan air laut sangatlah penting, terutama kedalaman MSL dipakai sebagai acuan ketinggian di daratan, dan CD untuk acuan kedalaman pada peta batimetri. Lalu “Bagaimana mendapatkan MSL dan CD??” Untuk mendapatkan nya, perlu dilakukan pengamatan pasang surut.. Untuk keperluan praktis cukup pengamatan selama 15 piantan ( 15 hari ) atau 29 piantan ( 30 hari ). Caranya bisa secara manual ( memakai rambu ukur yang ditaruh di pinggir laut kemudian dibaca manual tiap 30 menit ) , bisa juga secara otomatis ( menggunakan Pressure tide gauge, ataupun GPS tide gauge. Sehingga bacaan sudah terecord otomatis dan kita tingal mendownloadnya ). Lalu bacaan tersebut diolah menggunakan metode admiralty ( untuk pengamatan kurang dari 30 hari ), dan metode Least Square ( untuk pengamatan lebih dari 30 hari ). Sehingga didapatkan 9 parameter diantaranya M2, N2, S0 ( nilai MSL ), ZO ( selisih MSL terhadap CD ),dll. Untuk saat ini semuanya sudah bisa dilakukan software, kita tinggal menginputkan bacaan rambunya saja, dan 9 parameter sudah dihitung komputer secara otomatis, informasi MSL serta CD sudah langsung kita dapatkan.
Untuk keperluan ilmiah, pasang surut diamati setiap 18,6 tahun. Setelah 18,6 tahun, maka polanya berulang kembali dari awal. Namun pada survei bathimetri, biasanya cukup pengamatan 1 bulan sampai 1 tahun saja.
NB: Bagaimana jika ingin mendapatkan MSL dengan pengukuran kurang dari 15 piantan ( 15 hari ) ??.. Caranya bisa kita lakukan transfer tinggi dari TTG ( 0 MSL ) milik bakosurtanal ke daerah perairan / pelabuhan terdekat menggunakan sipat datar, kedua menggunakan pengamatan pasang surut min 39 jam kemudian dihitung menggunakan metode Doodson untuk mendapatkan DTS ( Duduk Tengah Sementara ), Terakhir menggunakan Prediksi Pasut yang bisa didapatkan di situs DISHIDROS atau bisa juga di www.easytide.com, sesuai dengan lokasi terdekat dengan daerah survei.
Kalu software yang dipergunakan untuk pengukuran bathimetri ada bermacam macam, diantaranya Hidronav (Under DOS), Hidropro, Map source, dll. Kalau saya biasanya menggunakan hidropro karena cukup mudah dalam mengoperasikan nya, data akhir yang didapatkan dalam format .txt berisi nomor fix, Easting, Northing, kedalaman. Dan bisa langsung kita plotkan di Software Autocad.
Saya rasa cukup sekian dari saya,, aya berharap semoga penjelasan ini paling tidak cukup memberikan gambaran kepada rekan2 geodesi.. Sukses selalu untuk Geodesi Tercinta.
Langganan:
Postingan (Atom)