Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi
Pelatihan Alat Survey ke Pantai Utara Jawa Karangsong, Kab. Indramayu, JaBar
1.1 Latar Belakang
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan merupakan salah satu kegiatan yang diusulkan dalam Program B2.1. Peningkatan kemampuan lulusan untuk mendukung riset dan layanan masyarakat melalui metoda pembelajaran Collaborative Learning. Proses pembelajaran secara collaborative learning diyakini dapat memfasilitasi penginkatan hard competence mahasiswa dengan lebih efektif karena prinsip dari collaborative learning adalah mahasiswa belajar dengan sangat baik apabila mahasiswa tersebut berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dengan pembimbingan yang sistematis dari para pakar (dosen dan expert). Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang terkait dalam peningkatan hard competence ini adalah workshop dengan ahli di bidang Teknik Kelautan.
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan merupakan salah satu kegiatan yang diusulkan dalam Program B2.1. Peningkatan kemampuan lulusan untuk mendukung riset dan layanan masyarakat melalui metoda pembelajaran Collaborative Learning. Proses pembelajaran secara collaborative learning diyakini dapat memfasilitasi penginkatan hard competence mahasiswa dengan lebih efektif karena prinsip dari collaborative learning adalah mahasiswa belajar dengan sangat baik apabila mahasiswa tersebut berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dengan pembimbingan yang sistematis dari para pakar (dosen dan expert). Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang terkait dalam peningkatan hard competence ini adalah workshop dengan ahli di bidang Teknik Kelautan.
1.2 Tujuan Kegiatan
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan ke lapangan bertujuan untuk meningkatkan hard competence mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan, yang sejalan dengan sejumlah kegiatan dalam Program B2.1 ini akan menginduksi atmosfir akademik yang baik, leadership, kemampuan komunikasi, kerja sama, profesionalisme mahasiswa yang lebih tinggi dan kemampuan dalam menggunakan alat-alat survey dalam bidang kelautan.
Kegiatan workshop dengan ahli Teknik Kelautan ke lapangan bertujuan untuk meningkatkan hard competence mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan, yang sejalan dengan sejumlah kegiatan dalam Program B2.1 ini akan menginduksi atmosfir akademik yang baik, leadership, kemampuan komunikasi, kerja sama, profesionalisme mahasiswa yang lebih tinggi dan kemampuan dalam menggunakan alat-alat survey dalam bidang kelautan.
1.3 Lokasi Kegiatan
Adapun lokasi kegiatan untuk Workshop dengan ahli kelautan ini adalah pada ruang 9311 gedung labtek VI Institut Teknologi Bandung di Jalan Ganesha no 10 Bandung.
1.4 Durasi KegiatanAdapun lokasi kegiatan untuk Workshop dengan ahli kelautan ini adalah pada ruang 9311 gedung labtek VI Institut Teknologi Bandung di Jalan Ganesha no 10 Bandung.
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Oktober 2008 mulai pukul 11.00 dan berakhir pukul 16.00
1.5 Sumber Pendanaan
Kegiatan ini sepenuhnya dibiayai oleh Program Hibah Kompetensi Berbasis Institusi 2008 dan didukung oleh Program Studi Teknik Kelautan ITB.
Kegiatan ini sepenuhnya dibiayai oleh Program Hibah Kompetensi Berbasis Institusi 2008 dan didukung oleh Program Studi Teknik Kelautan ITB.
1.6 Kinerja Capaian
Setelah kegiatan ini berlangsung diterbitkan sertifikat sebanyak buah untuk Peserta Ekskursi dan 3 buah plakat untuk narasumber dalam Workshop Teknik Kelautan.
Setelah kegiatan ini berlangsung diterbitkan sertifikat sebanyak buah untuk Peserta Ekskursi dan 3 buah plakat untuk narasumber dalam Workshop Teknik Kelautan.
2.1 Pendahuluan Pelaksanaan
Pada pukul 06.00 pagi,para pesrta ekskursi direncanakan sudah berkumpul di gerbang depan ITB dengan 30 menit dialokasikan untuk absen peserta dan mempersiapkan segala akomodasi. Dalam persiapan akan diberitahukan kepada peserta garis besar acara oleh Pak Hendra Achiari. Dijelaskan dalam garis besar antara lain lama perjalanan kira-kira 3 jam dan kita akan mengadakan ekskursi di tempat pelelangan ikan yang bertempat di kelurahan Karangsong, kabupaten Indramayu yang kebetulan sedang dilakukan pembangunan pada perlindungan pantainya. Kegiatan yang akan dilakukan disana dapat dilihat pada modul,yaitu ada pengukuran pada theodolit,pengukuran gelombang menggunakan TWR,penggunaan GPS Echosounder serta penggunaan Bottomgrabber. Setelah itu seluruh peserta dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok kira-kira berjumlah 7-8 orang.
Bis yang berjumlah dua buah datang sekitar pukul 06.30 dan peserta langsung naik dengan pembagian bis telah diatur oleh panitia. Pada saat berangkat para peserta hanya dibimbing oleh dua orang dosen yaitu Pak Hendra A dan Pak Hendriyawan. Pada saat perjalanan di dalam bis dibagikan fasilitas makan pagi yang telah disediakan panitia. Keberangkatan bis diperkirakan pada pukul 07.30. Perjalanan menempuh kira-kira 3 jam dengan istirahat pada pom bensin kabupaten Indramayu.
Kedatangan diperkirakan pada pukul 10.00 dilanjutkan briefing oleh Pak Harman dan 3 orang panitia serta perwakilan dari laboratorium gelombang. Pada briefing dijelaskan akan ada 2 macam kegiatan yaitu kegiatan di darat dan kegiatan di laut. Setiap kegiatan akan dilakukan oleh 3 kelompok secara bergantian. Kegiatan di darat akan dibimbing oleh pak Harman dan kegiatan laut akan dibimbing oleh pak Hendra A dan pak Hendriyawan. Pergantian kegiatan nantinya akan dijadwalkan dengan istirahat,sholat dan makan yang telah disediakan oleh perwakilan warga yaitu di kantor lurah Karangsong.
Kegiatan darat yang dibimbing oleh pak Harman lebih banyak berisi tentang penjelasan pada pembangunan pada pantai tersebut. Pantai tersebut direncanakan akan dibangun beberapa perlindungan antara lain tripod,kubus pelindung pantai, batu-batu kecil yang dibungkus dengan kawat yang sering disebut brongsong untuk semuanya dijadikan satu menjadi satu sistem perlindungan jetty yang menjorok ke laut. Jetty yang dijadikan sebagai penjelasan merupakan jetty yang telah hampir selesai oleh perencanaan perlindungan yang telah disebutkan. Pekerjaan pembangunan perlindungan pantai Karangsong ini kira-kira telah berlangsung hampir 7 bulan. Ditunjukkan juga dalam penjelasan tersebut air laut yang berwarna sedikit hitam karena kilang minyak Balongan yang ada di pantai seberang. Pak Harman mengatakan banyak warga yang mengeluh akibat pencemaran tersebut.
Selanjutnya akan diadakan pengukuran yang bertempat di ujung jetty pertama dari dua jetty yang direncanakan akan dibangun. Pengukuran menggunakan theodolit ini dijelaskan oleh satu orang setelah itu para peserta akan mencobanya sendiri dengan memindahkan sedikit kedudukan theodolit sehingga hasil yang didapat kelompok akan berbeda satu sama lain. Alat yang digunakan berupa alat pengamat dan penanda yang ada cukup jauh di depannya. Alat ini akan dapat mengukur ketinggian tempat tersebut serta jaraknya dari benchmark, yaitu tempat diletakkannya alat pengamat tersebut. Penjelasan dan percobaan yang dilakukan peserta kira-kira selama 3 jam.
Pengukuran laut dibimbing oleh pak Hendriyawan dan pak Hendra A dengan menggunakan kapal warga setempat yang bernama KM.Biawak. Pengukuran alat ini harus ditempuh dengan perjalanan 15 menit dari pantai karena laut dekat pantai telah terlindungi oleh jetty sehingga air lautnya terlalu tenang untuk dilakukan pengukuran. Pengukuran yang dilakukan disini lebih banyak sehingga ada beberapa percobaan yang dilakukan bersama-sama sehingga tiap kelompok harus membagi konsentrasi agar setiap percobaan mendapat perwakilan dalam mencatat pengukuran dan merekam hasilnya. Pengamatan yang dilakukan antara lain GPS Echosounder, TWR dan alat perekam gelombang serta Bottomgrabber. GPS dan TWR dapat langsung dihubungkan dengan komputer. Sedangkan alat perekam gelombang akan mencatat dalam periode tertentu sehingga nantinya dapat dilihat hasilnya. Tetapi karena penggunaan alat perekam gelombang harus minimal 24 jam agar mendapat pengaruh pasang surut,akhirnya pengamatan ini hanya ditunjukkan berupa pemasangan dan pengambilan alatnya dari laut. Bottomgrabber menghasilkan berupa sampel tanah yang dapat dianalisis di laboratorium nantinya.
Kedua percobaan dengan waktu ishomanya berakhir pukul 15.00. Para peserta diberi waktu bebas kira-kira satu jam sebelum bis kembali ke ITB. Bis meninggalkan Karangsong kira-kira pukul 16.00 untuk melakukan perjalanan pulang. Istirahat sholat dilakukan di masjid terdekat dengan pantai Karangsong sebelum ada istirahat makan di salah satu food court dan cindera mata Indramayu setempat. Para peserta dan dosen pembimbing sampai dengan selamat pada pukul 20.30 di depan gerbang ITB sebagai akhir dari perjalanan ekskursi Karangsong, Indramayu.
Pada pukul 06.00 pagi,para pesrta ekskursi direncanakan sudah berkumpul di gerbang depan ITB dengan 30 menit dialokasikan untuk absen peserta dan mempersiapkan segala akomodasi. Dalam persiapan akan diberitahukan kepada peserta garis besar acara oleh Pak Hendra Achiari. Dijelaskan dalam garis besar antara lain lama perjalanan kira-kira 3 jam dan kita akan mengadakan ekskursi di tempat pelelangan ikan yang bertempat di kelurahan Karangsong, kabupaten Indramayu yang kebetulan sedang dilakukan pembangunan pada perlindungan pantainya. Kegiatan yang akan dilakukan disana dapat dilihat pada modul,yaitu ada pengukuran pada theodolit,pengukuran gelombang menggunakan TWR,penggunaan GPS Echosounder serta penggunaan Bottomgrabber. Setelah itu seluruh peserta dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok kira-kira berjumlah 7-8 orang.
Bis yang berjumlah dua buah datang sekitar pukul 06.30 dan peserta langsung naik dengan pembagian bis telah diatur oleh panitia. Pada saat berangkat para peserta hanya dibimbing oleh dua orang dosen yaitu Pak Hendra A dan Pak Hendriyawan. Pada saat perjalanan di dalam bis dibagikan fasilitas makan pagi yang telah disediakan panitia. Keberangkatan bis diperkirakan pada pukul 07.30. Perjalanan menempuh kira-kira 3 jam dengan istirahat pada pom bensin kabupaten Indramayu.
Kedatangan diperkirakan pada pukul 10.00 dilanjutkan briefing oleh Pak Harman dan 3 orang panitia serta perwakilan dari laboratorium gelombang. Pada briefing dijelaskan akan ada 2 macam kegiatan yaitu kegiatan di darat dan kegiatan di laut. Setiap kegiatan akan dilakukan oleh 3 kelompok secara bergantian. Kegiatan di darat akan dibimbing oleh pak Harman dan kegiatan laut akan dibimbing oleh pak Hendra A dan pak Hendriyawan. Pergantian kegiatan nantinya akan dijadwalkan dengan istirahat,sholat dan makan yang telah disediakan oleh perwakilan warga yaitu di kantor lurah Karangsong.
Kegiatan darat yang dibimbing oleh pak Harman lebih banyak berisi tentang penjelasan pada pembangunan pada pantai tersebut. Pantai tersebut direncanakan akan dibangun beberapa perlindungan antara lain tripod,kubus pelindung pantai, batu-batu kecil yang dibungkus dengan kawat yang sering disebut brongsong untuk semuanya dijadikan satu menjadi satu sistem perlindungan jetty yang menjorok ke laut. Jetty yang dijadikan sebagai penjelasan merupakan jetty yang telah hampir selesai oleh perencanaan perlindungan yang telah disebutkan. Pekerjaan pembangunan perlindungan pantai Karangsong ini kira-kira telah berlangsung hampir 7 bulan. Ditunjukkan juga dalam penjelasan tersebut air laut yang berwarna sedikit hitam karena kilang minyak Balongan yang ada di pantai seberang. Pak Harman mengatakan banyak warga yang mengeluh akibat pencemaran tersebut.
Selanjutnya akan diadakan pengukuran yang bertempat di ujung jetty pertama dari dua jetty yang direncanakan akan dibangun. Pengukuran menggunakan theodolit ini dijelaskan oleh satu orang setelah itu para peserta akan mencobanya sendiri dengan memindahkan sedikit kedudukan theodolit sehingga hasil yang didapat kelompok akan berbeda satu sama lain. Alat yang digunakan berupa alat pengamat dan penanda yang ada cukup jauh di depannya. Alat ini akan dapat mengukur ketinggian tempat tersebut serta jaraknya dari benchmark, yaitu tempat diletakkannya alat pengamat tersebut. Penjelasan dan percobaan yang dilakukan peserta kira-kira selama 3 jam.
Pengukuran laut dibimbing oleh pak Hendriyawan dan pak Hendra A dengan menggunakan kapal warga setempat yang bernama KM.Biawak. Pengukuran alat ini harus ditempuh dengan perjalanan 15 menit dari pantai karena laut dekat pantai telah terlindungi oleh jetty sehingga air lautnya terlalu tenang untuk dilakukan pengukuran. Pengukuran yang dilakukan disini lebih banyak sehingga ada beberapa percobaan yang dilakukan bersama-sama sehingga tiap kelompok harus membagi konsentrasi agar setiap percobaan mendapat perwakilan dalam mencatat pengukuran dan merekam hasilnya. Pengamatan yang dilakukan antara lain GPS Echosounder, TWR dan alat perekam gelombang serta Bottomgrabber. GPS dan TWR dapat langsung dihubungkan dengan komputer. Sedangkan alat perekam gelombang akan mencatat dalam periode tertentu sehingga nantinya dapat dilihat hasilnya. Tetapi karena penggunaan alat perekam gelombang harus minimal 24 jam agar mendapat pengaruh pasang surut,akhirnya pengamatan ini hanya ditunjukkan berupa pemasangan dan pengambilan alatnya dari laut. Bottomgrabber menghasilkan berupa sampel tanah yang dapat dianalisis di laboratorium nantinya.
Kedua percobaan dengan waktu ishomanya berakhir pukul 15.00. Para peserta diberi waktu bebas kira-kira satu jam sebelum bis kembali ke ITB. Bis meninggalkan Karangsong kira-kira pukul 16.00 untuk melakukan perjalanan pulang. Istirahat sholat dilakukan di masjid terdekat dengan pantai Karangsong sebelum ada istirahat makan di salah satu food court dan cindera mata Indramayu setempat. Para peserta dan dosen pembimbing sampai dengan selamat pada pukul 20.30 di depan gerbang ITB sebagai akhir dari perjalanan ekskursi Karangsong, Indramayu.
2.2 Pengukuran Batimetri
Survei ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kontur kedalaman yang berupa angka kedalaman serta posisi kenampakan yang ada di areal lokasi pekerjaan beserta areal sekitarnya. Areal survei memanjang sejajar dengan garis pantai. Areal yang disurvei batimetri adalah berupa areal memanjang garis pantai. Hasilnya kemudian akan dipetakan dengan skala dan interval kontur tertentu.
Peralatan survei yang diperlukan pada pengukuran batimetri adalah :
i. Echo Sounder GPSMap dan perlengkapannya. Gambar alat ini disajikan pada Gambar 2.1.
ii. Notebook. Satu unit portable computer diperlukan untuk menyimpan data yang di-download dari alat GPS Map setiap 300 kali pencatatan data.
iii. Perahu. Perahu digunakan untuk membawa surveyor dan alat-alat pengukuran menyusuri jalur-jalur sounding yang telah ditentukan. Dalam operasinya, perahu tersebut harus memiliki beberapa kriteria, antara lain:
- Perahu harus cukup luas dan nyaman untuk para surveyor dalam melakukan kegiatan pengukuran dan downloading data dari alat ke komputer, dan lebih baik tertutup dan bebas dari getaran mesin.
- Perahu harus stabil dan mudah bermanuver pada kecepatan rendah.
- Kapasitas bahan bakar harus sesuai dengan panjang jalur sounding.
iv. Papan duga. Papan duga digunakan pada kegiatan pengamatan fluktuasi muka air laut yang dilakukan di pantai selama waktu pengukuran batimetri guna dijadikan bahan koreksi terhadap fluktuasi muka air laut.
v. Peralatan keselamatan. Peralatan keselamatan yang diperlukan selama kegiatan survei dilakukan antara lain life jacket.
Survei ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kontur kedalaman yang berupa angka kedalaman serta posisi kenampakan yang ada di areal lokasi pekerjaan beserta areal sekitarnya. Areal survei memanjang sejajar dengan garis pantai. Areal yang disurvei batimetri adalah berupa areal memanjang garis pantai. Hasilnya kemudian akan dipetakan dengan skala dan interval kontur tertentu.
Peralatan survei yang diperlukan pada pengukuran batimetri adalah :
i. Echo Sounder GPSMap dan perlengkapannya. Gambar alat ini disajikan pada Gambar 2.1.
ii. Notebook. Satu unit portable computer diperlukan untuk menyimpan data yang di-download dari alat GPS Map setiap 300 kali pencatatan data.
iii. Perahu. Perahu digunakan untuk membawa surveyor dan alat-alat pengukuran menyusuri jalur-jalur sounding yang telah ditentukan. Dalam operasinya, perahu tersebut harus memiliki beberapa kriteria, antara lain:
- Perahu harus cukup luas dan nyaman untuk para surveyor dalam melakukan kegiatan pengukuran dan downloading data dari alat ke komputer, dan lebih baik tertutup dan bebas dari getaran mesin.
- Perahu harus stabil dan mudah bermanuver pada kecepatan rendah.
- Kapasitas bahan bakar harus sesuai dengan panjang jalur sounding.
iv. Papan duga. Papan duga digunakan pada kegiatan pengamatan fluktuasi muka air laut yang dilakukan di pantai selama waktu pengukuran batimetri guna dijadikan bahan koreksi terhadap fluktuasi muka air laut.
v. Peralatan keselamatan. Peralatan keselamatan yang diperlukan selama kegiatan survei dilakukan antara lain life jacket.
A. Jalur Pemeruman (Sounding Trace)
Jalur sounding adalah jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik awal sampai ke titik akhir dari kawasan survei. Panjang jalur sounding dari darat ke arah laut lepas yang harus dikaji harus ditetapkan terlebih dahulu.
Jalur sounding adalah jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik awal sampai ke titik akhir dari kawasan survei. Panjang jalur sounding dari darat ke arah laut lepas yang harus dikaji harus ditetapkan terlebih dahulu.
B. Pengambilan Data Kedalaman Perairan dan Posisi Horisontal
Untuk tiap jalur sounding dilakukan pengambilan data kedalaman perairan dengan interval tertentu mengunakan GPSMap 188 Sounder Garmin, alat ini mempunyai kemampuan untuk mengukur kedalaman perairan dengan menggunakan gelombang suara yang dipantulkan ke dasar perairan serta mencatatnya ke dalam notebook.
Selain mencatat kedalaman dari titik-titik yang diambil, GPSMap juga mencatat koordinat X dan Y dari titik-titik tersebut. Alat ini mempunyai fasilitas GPS (Global Positioning System) yang akan memberikan posisi alat pada kerangka horisontal dengan bantuan satelit, dimana proyeksi yang digunakan adalah menggunakan Universal Transverse Mercator (UTM) dengan datum WGS 84. Dengan fasilitas ini, kontrol posisi dalam kerangka horisontal dari suatu titik tetap di darat tidak lagi diperlukan.
Untuk tiap jalur sounding dilakukan pengambilan data kedalaman perairan dengan interval tertentu mengunakan GPSMap 188 Sounder Garmin, alat ini mempunyai kemampuan untuk mengukur kedalaman perairan dengan menggunakan gelombang suara yang dipantulkan ke dasar perairan serta mencatatnya ke dalam notebook.
Selain mencatat kedalaman dari titik-titik yang diambil, GPSMap juga mencatat koordinat X dan Y dari titik-titik tersebut. Alat ini mempunyai fasilitas GPS (Global Positioning System) yang akan memberikan posisi alat pada kerangka horisontal dengan bantuan satelit, dimana proyeksi yang digunakan adalah menggunakan Universal Transverse Mercator (UTM) dengan datum WGS 84. Dengan fasilitas ini, kontrol posisi dalam kerangka horisontal dari suatu titik tetap di darat tidak lagi diperlukan.
C. Koreksi Terhadap Kedalaman
Data yang tercatat pada alat GPSMap adalah jarak antara transducer alat ke dasar perairan. Transducer tersebut diletakkan di bagian belakang kapal, di bawah permukaan air yang terpengaruh oleh pasang surut. Oleh sebab itu diperlukan suatu koreksi kedalaman terhadap jarak transducer ke permukaan air dan koreksi kedalaman terhadap pasang surut. Gambar 2.3 menampilkan sketsa definisi besaran-besaran panjang yang terlibat dalam proses koreksi tersebut.
Data yang tercatat pada alat GPSMap adalah jarak antara transducer alat ke dasar perairan. Transducer tersebut diletakkan di bagian belakang kapal, di bawah permukaan air yang terpengaruh oleh pasang surut. Oleh sebab itu diperlukan suatu koreksi kedalaman terhadap jarak transducer ke permukaan air dan koreksi kedalaman terhadap pasang surut. Gambar 2.3 menampilkan sketsa definisi besaran-besaran panjang yang terlibat dalam proses koreksi tersebut.
D. Pengikatan Terhadap Elevasi Referensi
Hasil dari koreksi pertama (koreksi terhadap jarak transducer ke muka air dan terhadap pasang surut) menghasilkan elevasi dasar perairan terhadap nol papan duga. Elevasi ini kemudian diikatkan kepada elevasi LLWL. Pengikatan terhadap LLWL dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut ini:
dimana:Hasil dari koreksi pertama (koreksi terhadap jarak transducer ke muka air dan terhadap pasang surut) menghasilkan elevasi dasar perairan terhadap nol papan duga. Elevasi ini kemudian diikatkan kepada elevasi LLWL. Pengikatan terhadap LLWL dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut ini:
EDLWS = elevasi dasar perairan relatif terhadap LLWL
ED = elevasi dasar perairan relatif terhadap nol papan duga
ELWS = elevasi LWS relatif terhadap nol papan duga
2.3 Pemakaian Alat Ukur Theodolit
Pengukuran situasi rinci dilakukan dengan cara tachymetri dengan menggunakan alat ukur Theodolite kompas (T0). Dengan cara ini diperoleh data-data sebagai berikut:
Pengukuran situasi rinci dilakukan dengan cara tachymetri dengan menggunakan alat ukur Theodolite kompas (T0). Dengan cara ini diperoleh data-data sebagai berikut:
- Azimuth Magnetis
- Pembacaan benang diafragma (atas, tengah, bawah)
- Sudut zenith atau sudut miring
- Tinggi alat ukur
Spesifikasi pengukuran situasi adalah sebagai berikut:
- Metoda yang digunakan adalah tachymetri dengan membuat jalur/ray, dimana setiap ray terikat pada titik-titik poligon sehingga membentuk jalur poligon dan waterpass terikat sempurna.
- Pembacaan rinci dilakukan menyebar ke seluruh areal yang dipetakan dengan kerapatan disesuaikan dengan skala peta yang akan dibuat. Gundukan tanah, batu-batu besar yang mencolok serta garis pantai akan diukur dengan baik. Juga bangunan-bangunan yang penting dan berkaitan dengan pekerjaan design akan diambil posisinya.
- Setiap ujung bangunan diambil posisinya dan untuk pengecekan peta, jarak antara ujung-ujung bangunan yang bersebelahan juga akan diukur.
2.4 Pemakaian Alat Ukur Waterpas
Penentuan posisi vertikal titik-titik kerangka dasar dilakukan dengan pengukuran beda tinggi antara dua titik terhadap bidang referensi (LLWL) seperti yang digambarkan pada Gambar 2.5.
Pengukuran waterpas mengikuti ketentuan sebagai berikut:Penentuan posisi vertikal titik-titik kerangka dasar dilakukan dengan pengukuran beda tinggi antara dua titik terhadap bidang referensi (LLWL) seperti yang digambarkan pada Gambar 2.5.
- Jalur pengukuran dibagi menjadi beberapa seksi.
- Tiap seksi dibagi menjadi slag yang genap.
- Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang dan rambu belakang menjadi rambu muka.
- Pengukuran dilakukan double stand pergi pulang pembacaan rambu lengkap (Bt, Ba, Bb).
- Selisih pembacaan stand 1 dengan stand 2 < 2 mm.
- Jarak rambu ke alat maksimum 75 m.
- Setiap awal dan akhir pengukuran dilakukan pengecekan garis bidik.
- Toleransi salah penutup beda tinggi (T).
T =
D = Jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam satu kilo meter.
D = Jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam satu kilo meter.
2.5 Pemakaian Alat Ukur Arus
Tujuan pengukuran arus adalah untuk mendapatkan besaran kecepatan dan arah arus yang akan berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal. Pengukuran arus dilaksanakan pada kondisi neap dan spring. Data arus ini akan digunakan sebagai data kalibrasi model dan data untuk penghitungan debit sungai. Alat yang digunakan dapat berupa currentmeter jenis doppler misalnya Aanderaa RCM-9, jenis baling-baling ataupun cara manual. Ketelitian alat yang disyaratkan untuk pengukuran kecepatan arus sebesar 20% dan 100 untuk arah arus. Metoda pelaksanaan pengukuran ini dijelaskan sebagai berikut:
Tujuan pengukuran arus adalah untuk mendapatkan besaran kecepatan dan arah arus yang akan berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal. Pengukuran arus dilaksanakan pada kondisi neap dan spring. Data arus ini akan digunakan sebagai data kalibrasi model dan data untuk penghitungan debit sungai. Alat yang digunakan dapat berupa currentmeter jenis doppler misalnya Aanderaa RCM-9, jenis baling-baling ataupun cara manual. Ketelitian alat yang disyaratkan untuk pengukuran kecepatan arus sebesar 20% dan 100 untuk arah arus. Metoda pelaksanaan pengukuran ini dijelaskan sebagai berikut:
- Pengukuran arus dilakukan pada beberapa lokasi dimana arus mempunyai
pengaruh penting. Penempatan titik pengamatan ini disesuaikan dengan
kondisi oseanografi lokal dan ditentukan hasil studi pengamatan / survei
pendahuluan (reconnaissance survey).
Yang dilakukan adalah: pengukuran distribusi kecepatan, dalam hal ini pengukuran dilakukan di beberapa penampang dan di 3 kedalaman dalam satu penampang.
Berdasarkan teori yang ada, kecepatan arus rata-rata pada suatu penampang yang besar adalah :
V = 0.25 ( V0.2d + 2xV0.6d + V0.8d)
dimana :
= arus pada kedalaman 0.2d
D= kedalaman lokasi pengamatan arus. - Pengamatan kecepatan arus dilakukan di kedalaman 0.2d, 0.6d, 0.8d seperti pada Gambar 2.7 Pengukuran dilakukan secara “spot”, dari satu titik ke titik lain.
- Untuk keperluan kalibrasi atas model numerik yang akan dibahas pada bagian selanjutnya, pengukuran arus minimal dilaksanakan pada saat tunggang pasang-surut besar atau pada masa purnama (neap).
- Di samping besar arus, arah arus juga diamati.
2.6 Pengambilan Contoh Sedimen Dasar
Pengambilan contoh sedimen layang dilakukan pada lokasi yang sudah ditentukan. Metoda pengambilan contoh sedimen dasar diilustrasikan pada Gambar 2.9. Kemudian hasil sampel diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan sedimennya. Pengambilan sampel sedimen dasar menggunakan satu unit grabber seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.10. Grabber dengan kondisi “mulut” terbuka diturunkan dengan menjulur tali hingga membentur tanah dasar laut. Saat tali ditarik kembali, secara otomatis mulut grabber akan menggaruk material di bawahnya hingga tertutup. Dengan demikian grabber yang telah memuat material dasar ditarik ke atas. Sampel material dasar tersebut dimasukkan ke dalam wadah plastik yang diberi tanda untuk dites di laboratorium untuk mengetahui gradasi butirannya.
Data kandungan sedimen dan gradasi butiran merupakan parameter yang diperlukan untuk pemodelan sedimentasi, sehingga dapat diketahui pola sedimentasi di lokasi kajian.
Pengambilan contoh sedimen layang dilakukan pada lokasi yang sudah ditentukan. Metoda pengambilan contoh sedimen dasar diilustrasikan pada Gambar 2.9. Kemudian hasil sampel diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan sedimennya. Pengambilan sampel sedimen dasar menggunakan satu unit grabber seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.10. Grabber dengan kondisi “mulut” terbuka diturunkan dengan menjulur tali hingga membentur tanah dasar laut. Saat tali ditarik kembali, secara otomatis mulut grabber akan menggaruk material di bawahnya hingga tertutup. Dengan demikian grabber yang telah memuat material dasar ditarik ke atas. Sampel material dasar tersebut dimasukkan ke dalam wadah plastik yang diberi tanda untuk dites di laboratorium untuk mengetahui gradasi butirannya.
Data kandungan sedimen dan gradasi butiran merupakan parameter yang diperlukan untuk pemodelan sedimentasi, sehingga dapat diketahui pola sedimentasi di lokasi kajian.
2.7 Pemakaian Alat Ukur Gelombang
Survei pengukuran gelombang menggunakan Pressure Wave Gauge yang diletakkan pada dasar laut. Peralatan yang digunakan adalah TWR2050. Gambar 2.12 menunjukkan sketsa pengukuran gelombang. Prinsip dari pengukuran adalah tekanan air dinamik dan statik pada lokasi wave gauge. Hasil pengukuran runut waktu tekanan air ini kemudian difilter dan dengan rumus gelombang linear yakni ŋ (free surface) = fungsi (pressure) dari teori gelombang linear, data tekanan air ini dirubah menjadi data profil permukaan air (free surface). Selanjutnya dengan metoda Zero Up Crossing dapat diperoleh runut waktu tinggi gelombang dan periodanya. Kemudian dengan metoda statistik dapat dicari H1/3 (Hs = Tinggi gelombang signifikan) yang terjadi. Gambar 2.13 menunjukkan diagram dari proses pengambilan data.
Survei pengukuran gelombang menggunakan Pressure Wave Gauge yang diletakkan pada dasar laut. Peralatan yang digunakan adalah TWR2050. Gambar 2.12 menunjukkan sketsa pengukuran gelombang. Prinsip dari pengukuran adalah tekanan air dinamik dan statik pada lokasi wave gauge. Hasil pengukuran runut waktu tekanan air ini kemudian difilter dan dengan rumus gelombang linear yakni ŋ (free surface) = fungsi (pressure) dari teori gelombang linear, data tekanan air ini dirubah menjadi data profil permukaan air (free surface). Selanjutnya dengan metoda Zero Up Crossing dapat diperoleh runut waktu tinggi gelombang dan periodanya. Kemudian dengan metoda statistik dapat dicari H1/3 (Hs = Tinggi gelombang signifikan) yang terjadi. Gambar 2.13 menunjukkan diagram dari proses pengambilan data.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar